Kamis, 07 Mei 2015

Ketika Cinta Harus Bersabar Bag. 8


Penulis : Nurlaila Zahra

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah lima bulan lamanya aku hidup sebagai seorang istri. Menjalani hidup ini dengan seorang suami yang sampai sekarang belum bisa menerimaku sebagai istrinya. Sampai sekarang pula tak pernah sedikitpun aku lihat sebuah kilatan cinta dimatanya untukku. Tak pernah ada tatapan mesra penuh kehangatan yang dia berikan padaku ketika dia pulang dari kerjanya ataupun ketika aku pulang dari kewajibanku bekerja di sebuah perusahaan majalah Islam. Karena hal ini juga, novel ketigaku yang harusnya sudah rampung beberapa bulan yang lalu, kini harus rela tertunda karena masalah hatiku.
Suasana di rumah dan di kantor sangat berbeda sekali. Di rumah tak bisa aku temukan kemesraan seikitpun dari suamiku, Yusuf. Tetapi dikantor, aku justru menemui Arini dan Fauzi yang kian hari kulihat kian mesra. Tak jarang aku mendengar cerita Arini tentang Fauzi, suaminya, yang menurutnya sangat lembut dan mesra sekali pada dirinya. Aku semakin iri dibuatnya.
Andai saja Arini tahu apa yang aku alami selama hidup berumah tangga, aku yakin Arinipun akan menangis dibuatnya. Dia adalah tipe perempuan yang mudah sekali menangis bila melihat atau mendengar kabar atau berita yang menyedihkan. Saat ini dia tengah mengandung dua bulan, hasil buah cintanya dengan Fauzi. Aku hanya bisa tersenyum kecil kala mendengar ceritanya tentang pengalamannya selama dia mengandung. Tak jarang aku dibuatnya kebingungan tatkala dia menanyaiku kapan aku mau menyusulnya. Aku kembali tersenyum dan hanya menjawab,
”Do’akan saja ya Rin? Mudah-mudahan Allah berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku dan suami”
”Amin”, Sahut Arini mengamini.
Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan bulan maduku bersama Yusuf di hotel Maharani lima bulan yang lalu. Aku ingat betul, sejak kejadian itu sampai sekarang, kami baru melakukannya lima kali. Ya, bisa diperhitungkan dalam sebulan itu hanya sekali kami melakukannya. Maka tak jarang, sebelum subuh aku terbangun untuk makan sahur agar keesokannya aku kuat melakukan shaum. Hal itu sengaja aku lakukan untuk menahan keinginan biologisku yang tak tersalurkan.
Terkadang pula sebelum aku makan sahur, aku terlebih dulu melaksanakan shalat tahajud dan sedikit bermunajat pada Sang Maha Pencipta. Meminta kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini, meminta kesabaran agar aku bisa lebih tabah menerima keadaan suamiku, dan tak lupa, meminta kepada Sang Maha Pemberi nikmat agar berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku. Bidadari kecil yang sudah lama aku nantikan. Bidadari mungil yang sebenarnya sudah aku impikan sebelum aku menikah. Bidadari cantik yang sesungguhnya menjadi harapanku ketika kelak aku hidup bersama seorang suami. Bidadari yang mungkin kini akan lama hadir dalam kehidupanku.
Ditengah munajatku kepadaNya, tak jarang air mataku jatuh membasahi putihnya warna mukena yang kukenakan. Selesai bermunajat, aku tutup tahajudku dengan shalat witir 3 rakaat lalu kemudian aku makan sahur. Seadanya saja. Biasanya setelah sahur, aku mengambil buku harianku dan kutuliskan semua keadaan hatiku disana. Tentang Yusuf suamiku, tentang alasanku melakukan puasa sunnah, dan tentang harapan-harapanku di masa depan.
Terkadang ayah dan ibu mertuaku bertanya padaku kenapa sering sekali melakukan puasa sunnah. Aku hanya menjawab, ”Ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah”
Biasanya ayah dan ibu mertuaku hanya mengangguk-angguk pelan.
Aku juga sering mandi sebelum subuh. Hal itu aku lakukan agar mereka tak menaruh curiga padaku. Mereka pasti akan berpikir kalau aku mandi sebelum subuh, itu artinya semalam aku dan Yusuf baru memadu kasih. Aku hanya ingin mereka berpikiran yang baik-baik terhadap aku dan Yusuf. Itulah hal-hal yang sering aku lakukan ketika aku masih tinggal di rumah mereka.
Tapi kini, hal itu tak perlu lagi aku lakukan. Beberapa hari yang lalu aku dan Yusuf memutuskan untuk mengontrak rumah di daerah Lenteng Agung. Tak besar memang, tapi aku rasa inilah yang terbaik yang harus kami lakukan.
Tempat tidur, lemari pakaian, komputer, bufet, televisi, kursi, dan meja, semuanya telah tertata dengan rapi dirumah kontrakan baruku. Mama, Papa, Ayah, dan Ibu mertuaku turut membantuku merapikan rumah. Mereka benar-benar mengira kalau kehidupanku dan Yusuf amatlah bahagia, sampai-sampai kami memilih untuk mengontrak rumah karena ingin belajar hidup mandiri. Aku hanya bisa meminta do’a restu mereka agar aku dan Yusuf memang benar-benar Bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dirumah ini.
* * *
Malam ini Yusuf tengah bergelut dengan laptopnya. Aku sendiri tak tahu apa yang sedari tadi dikerjakannya. Selepas Maghrib tadi dia sudah mulai duduk di depan laptop sambil mengetik beberapa tulisan yang ada dihadapannya. Beberapa lembar kertas berserakan di meja dan itu membuatnya tampak sangat sibuk. Sepertinya tak ada jeda untuk dia melakukan aktivitas lain. Dia menjeda kegiatannya tatkala azan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah baru kami. Masjid Al Mustofa namanya. Kali ini dia memilih untuk shalat Isya dirumah ketimbang di masjid. Alasannya kalau di masjid, selesai shalat tidak bisa langsung pulang karena bapak-bapak disana sering mengajaknya berbincang-bincang terlebih dahulu. Kalau itu sampai terjadi, maka malam ini dia harus ekstra lembur karena banyak sekali ketikan yang yang harus diselesaikan.
Selesai shalat Isya, dia kembali lagi bergelut dengan laptopnya di ruang tamu. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya sambil membawakan segelas wedang jahe untuknya agar tidak masuk angin, karena malam ini ia harus lembur.
”Ngetik apa sih Mas, dari tadi? Sepertinya kelihatan sibuk sekali?” Tanyaku sambil memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Ya, memang semenjak aku menikah dengannya, aku memanggilnya dengan sebutan ’Mas’. Diapun tidak keberatan aku memanggilnya seperti itu.
Mendengar pertanyaanku tadi, dia sepertinya agak kesal. Wajahnya tak tampak seguratpun senyuman. Mungkin karena dia yang sudah sibuk, ditambah lagi dengan pertanyaanku yang sebenarnya tidak Bisa membantunya. Mungkin. Itu hanya sebuah kemungkinan saja dariku. Dia menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
”Ngetik soal buat UTS besok” Jawabnya singkat.
”Memang sebanyak itu?” Tanyaku lagi.
Dia hanya mengangguk. Aku terdiam sesaat lalu beranjak pergi dari hadapannya.
”Jangan tidur terlalu malam ya? Khawatir besoknya kurang fit malah tidak bisa ngajar. Wedang jahenya jangan lupa diminum, biar kamu tidak masuk angin. Aku tidur duluan ya?” Ucapku sebelum beranjak pergi ke kamar.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk lirih. Aku jadi merasa kasihan padanya. Ketika aku hendak membuka pintu kamar, dia bersuara.
”Terima kasih ya? Dinda” Ucapnya sambil memandang kearahku. Spontan akupun menoleh padanya dan memberikannya senyuman. Diapun tersenyum kecil dan kembali lagi mengetik. Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan bahagia. Entah mengapa mendengar dia memanggil namaku seolah mendadak berubah menjadi panggilan sayang untukku. Dinda. Ya, nama itu seolah menjelma menjadi panggilan, ’Dindaku sayang’.
Ah, andai saja itu benar-benar terjadi, pasti saat ini aku tengah berbahagia dengan kehidupan baruku. Tapi paling tidak, mendengar dia memanggil namaku saja aku sudah sangat senang. Malam ini, aku Bisa tidur nyenyak.
”Terima kasih ya? Dinda” Suaranya terus menggema di telingaku, sampai aku memejamkan mata.
* * *
--NEXT-->

Tidak ada komentar:

Posting Komentar