Minggu, 17 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri Bagian 12


Karya : Asma Nadia

“Hari Pertama Memandangmu”

“Ketika membuka mata saya melihat suster berlalu lalang dalam pakaian hijau dan masker. Tidak berapa lama terdengar suara kelegaan.”
17 Juli 1996
Setahun setelah pernikahan, hingga hari ini, saya merasa momen di mana saya dipertemukan dengan lelaki yang sekarang menjadi suami, adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya.
24 jam kemudian saya tahu saya salah.
RS. Haji 18 Juli 1996
Berjam-jam di rumah sakit. Konstraksi terus menerus. Diinduksi sudah, dimasukkan sejenis obat untuk merangsang pembukaan juga sudah. Tapi situasi tidak berubah. Pembukaan satu dan tidak maju-maju.
Tubuh saya lelah, keringat saya mengucur. Posisi tubuh jadi serba salah. Duduk sakit.Berbaring ke kanan atau ke kiri terasa sakit. Setelah 24 jam saya tidak sanggup makan apa-apa lagi.
Padahal saya masuk ke rumah sakit dalam keadaan bugar dan bisa berjalan gagah. Tidak ada mu las-mulas karena konstraksi sebelum dipancing obat. Dokter mengatakan rahim saya sudah tua dan karenanya harus segera dirawat dan diinduksi.
Pukul 14.00 siang.
Bercak-bercak darah, lebih banyak dari biasa.
Pukul 14.15 siang, ketuban pecah.
Suster berlari memanggil dokter, yang ternyata sedang dalam perjalanan kembali ke rumahnya. Kami menunggu cemas.
Ketika dokter datang, ruang operasi segera disiapkan. Saya nyaris tak bisa bersuara. Hanya mengangguk. Apa saja, pikir saya... setelah keletihan 30 jam ini, rasanya saya siap menghadapi tindakan apa pun.
Tepat pukul 15.00
Seperti berada dalam perahu yang terayun-ay un dengan pelan. Saya dengan dokter berbicara. Ketika membuka mata saya melihat suster berlalu la lang dalam pakaian hijau dan masker. Tidak berapa lama terdengar suara kelegaan.
“Bayinya sudah keluar... kasih lihat ibunya.”
Saya seperti diloncatkan dari kesadaran yang minim. Bayi... bayi saya?
“Apa semuanya lengkap, Dok? Jari-jarinya? Tubuhnya?”
Saya tahu setiap anak adalah anugerah luar biasa dari Yang Maha. Saya tahu seorang ibu harus menerima apapun kondisi bayinya, dan tetap bersyukur terhadap anugrah yang diberikan.
Dan dengan sepenuh hati saya mengagumi potret para ibu yang dikaruniai anak-anak 'istimewa' namun sanggup menerimanya dengan keikhlasan, ya ng dibuktikan dengan kegigihan membesarkan anak mereka.
Sekalipun menderita hdyrocephallus.
Sekalipun memiliki cacat fisik.
Sekalipun mengalami down syndrorne.
Ahh, sementara saya... apa saya akan siap?
Saya kira, dibandingkan para ibu yang saya kagumi itu, keimanan saya mungkin berada jauh di anak tangga paling rendah. Buktinya pertanyaan itulah yang pertama terloncat dari mulut saya.
Syukurlah kondisi ananda baik.
Seorang suster menggendong satu sosok mungil setengah telanjang, hanya dibalut kain bedong seadanya dan menyodorkannya agar saya bisa melihat lebih jelas.
Putih kemerahjambuan, montok. Matanya yang terpejam terlihat sipit. Bibir mungilnya berbentuk segitiga sempurna. Seorang bayi perempuan!
Subhanallah...
Sulit bagi saya melukiskan perasaan, tapi setiap Ibu akan mengerti.
Hari pertama menjadi ibu.
Hari pertama ketika menerima hadiah terbaik yang Allah limpahkan kepada setiap perempuan. Karunia yang di kemudian hari menjadi sumber kekuatan bagi setiap istri ketika merasa begitu lemah dan linglung mencari pegangan. Sumber dari semua keceriaan, di saat hati diam-diam menangis.
Jadi, sungguh saya tidak mengerti bagaimana bisa seorang perempuan menolak kodratnya menjadi seorang ibu, dan menolak anugerah yang diberikan Tuhan?

“Perempuan Istimewa di Hati Abah Agil”

“Ibu talalu barsi dan ikhlas untuk beta. Jadi Aba seng bisa ganti dengan orang lain. “ (“Ibu terlalu bersih (menjaga kehormatannya) dan ikhlas untuk saya, Saya tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain. Nak.”)
(Aba Agil, di ruang tengah rumah kami)
Sudah cukup lama saya pesimis dengan kesetiaan laki-laki.
Sebagian besar kisah yang saya tuangkan di sini rasanya cukup memberikan gambaran bagi sa ya, betapa tipisnya kesetiaan lelaki zaman sekarang. Kadang saya berpikir, lagi-lagi dengan pesimis, berapa lamakah waktu yang diperlukan lelaki untuk siap menikah lagi, setelah istri mereka berpulang?
Ini mungkin lahir dari sentimentil saya. Sebab saya tahu, dalam agama, bahkan dibenarkan bagi lelaki untuk menikah lagi ketika istri masih hidup (poligami), apalagi jika istri sudah tidak ada? Sama sekali tidak diperlukan batasan waktu untuk itu.
Barangkali karena saya perempuan yang besar dengan kisah-kisah cinta dunia yang abadi. Taj Mahal, Romeo dan Juliet, dan banyak lagi, hingga merasa secara pribadi penting menyoalkan hal ini.
Hingga suatu hari, saya kedatangan seorang pengarang muslimah yang saya kagumi semangat dan kejujuran tulisannya. Ida Azuz, muslimah asli Ambon ini mengomentari pernikahan kedua seorang ustadz terkenal yang ketika itu menjadi berita yang mengguncang banyak pihak.
“Yang jelas, pernikahan beliau membuat saya makin bangga dengan ayah saya, Mbak Asma.”
Ida Azuz lalu menceritakan sosok Aba Agil, ayahnya... dan kisah cinta yang terus ingin dikenang lelaki itu hingga maut datang. Begitu menyentuh hingga saya memintanya untuk membagi kisah tersebut, sambil berharap semoga kisah terakhir ini menjadi catatan akhir yang indah, di hati sesama istri.
Gelegar suara Aba Agil pada saya ketika sarapan pagi membuat saya mengerut ketakutan. Memang hanya dua kata yang dikeluarkannya, tetapi saya benar-benar takluk. Saya benar-benar tidak berdaya dibuatnya. Saya ketakutan. Saya benar-benar tidak siap dengan reaksi keras atas permintaan yang saya sampaikan dengan penuh ketulusan.
Padahal untuk menyampaikan permintaan itu, saya menyusun kata-kata sejak semalam agar tidak menyinggung perasaan Aba.Tetapi gelegar suara itu belum cukup, dengan satu gerakan cepat, Aba langsung meninggalkan meja makan, masuk ke kamar dan menguncinya dengan suara yang keras.
Seumur-umur saya baru sekali ini melihat Aba marah demikian keras. Apalagi kami masih berada dalam suasana duka karena Ibu berpulang baru dua bulan yang lalu.
Kemarahan yang keras di meja makan kemudian meninggalkan meja makan dalam kultur kami merupakan hal yang sangat jarang kami lakukan. Jika itu terjadi, pertanda kemarahan telah menghampiri batas-batasnya.
Dan itu saya dapatkan dari Aba Agil di pagi hari. Terus terang saya tidak siap.
Aba lalu mengunci diri di kamar. Dengan perasaan takut, saya menunggu Aba untuk makan siang. Sejam dua jam berlalu, Aba tidak mau keluar dari kamar. Kali ini Aba betul-betul marah pada saya. Padahal yang saya sampaikan itu menurut pandangan kami, anak-anak Aba, adalah untuk kebaikan Aba juga.
Apa yang saya sampaikan sebetulnya atas usul ustadz Agung Wirawan setelah mengetahui bahwa Aba masih dirundung sedih karena ditinggal Ibu dua bulan yang lalu.
Ustadz Agung mengatakan pada saya, sebaiknya kami membicarakan secara baik-baik pada Aba, untuk mencari pengganti Ibu di sisi Aba.
Ini sebetulnya awal kemarahannya itu pada saya. Dua bulan setelah ibu berpulang, saya melihat Aba seperti kehilangan semangat hidup. Kerap Aba duduk di teras rumah memandang jauh, dan dengan gerakan yang samar, mengelap matanya yang mulai berair. Saya juga sering mendapati Aba selesai shalat malam, duduk berdoa sambil menangis. Ah, di manakah semua ketabahan dan ketegaran yang Aba miliki itu?
Kami, anak-anaknya, berupaya keras bergantian menghibur Aba dari duka yang mendalam itu. Saya memahami kedukaannya itu dengan baik. Saya menyadari dengan sepenuhnya bahwa ketika Ibu berada pada saat-saat kritis dalam hidupnya, ketika Ibu berdiri di ujung lekukan kehidupan dunianya, Aba, lelaki yang membuat Ibu semakin paham agama itu, justru tidak sempat membisikkan kalimat-kalimat pe ngantar untuk berpulang keharibaan Allah. Ketidakhadiran Aba di samping ibu pada saat saat terakhirnya ternyata membuat Aba terpukul.
Saya masih ingat, sehari sesudah Ibu kami tidurkan di tanah merah berliat Sudiang (Lokasi pemakaman di Makassar), Aba baru tiba dari Ambon. Saya menjemputnya di pelabuhan kapal, karena tidak mungkin menggunakan pesawat secara bebas dalam suasana konflik di Ambon.
Saya dan Aba bertemu pandang di pelabuhan, kami tidak berkata-kata, saya hanya menggelengkan kepala. Saya ingin mengirim isyarat bahwa perempuan yang kami cintai telah berpulang. Lidah saya kelu untuk mengucapkan kata-kata kepulangan itu. Terlalu sakit bagi saya. Sesaat kami bersitatap, Aba memeluk saya erat-erat, lalu saya mendengar nafas Aba yang berat. Ada yang basah di bahu saya.
Dua bulan telah berlalu. Saya masih menangkap kelabu di mata Aba. Aba lebih suka menyendiri atau tidur menghadap dinding. Sebagai anak, saya tahu, mata aba pastilah sudah basah. Kesedihan Aba tetap menggantung di matanya. Lalu saya bertemu dengan ustadz Agung Wirawan yang kenal baik dengan keluarga kami. Ustadz Agung menanyakan kabar Aba. Dan saya menyampaikan kalau Aba masih berat ditinggalkan Ibu. Dan meluncurlah usulan untuk mencarikan pengganti Ibu bagi Aba. Kata ustadz Agung, memang anak bisa merawat Aba dengan baik, tetapi beda dengan kehadiran seorang istri di samping.
Ini bukan saja berkaitan dengan persoalan fisik, tetapi secara mental, Aba butuh pendamping. Urai ustadz Agung.
Meskipun saya anak tertua, tetapi untuk hal-hal begini, saya perlu berunding dengan adik-adik saya. Kami sepakat untuk mencarikan pengganti Ibu. Tiba-tiba ada kesedihan yang menyergap kami saat berunding. Kami sedih sekali ketika menyadari ada orang lain yang akan mengantikan posisi ibu. Fidaan, si bungsu, mengatakan tidak mungkin orang lain bisa menempati tempat Ibu di hati kami. Tetapi untuk menemani Aba, apa boleh buat,kami harus mencari orang lain.
Berempat, kami memikirkan siapa kira-kira yang akan kami usulkan untuk Aba. Kami berprinsip bahwa kami harus mendapatkan orang yang mengetahui latar belakang keluarga kami, yang betul-betul dapat menghormati Ibu yang sudah pulang, juga dapat membuat kami hormat padanya. Dalam pikiran kami, kehadiran seorang pengganti Ibu, bukan sekedar untuk menemani Aba semata, tetapi mestilah dapat merangkum kami semua dengan kasih sayang yang tulus. Karena begitu orang lain menjadi ibu kami, kami harus menaruh hormat padanya layaknya anak pada seorang ibu. Kami ingin menghormatinya tidak sekedar sebagai istri Aba, tetapi dia adalah juga ibu bagi kami. Itu yang ada dalam dalam curah pendapat antara kami, anak-anak Aba. Maka ketika kami telah sepakat untuk siap memiliki ibu baru, pembicaraan kemudian meloncat pada ftgure siapakah yang kiranya cocok dengan Aba dan kami semua, setelah timbang sana, timbang sini, kami telah mendapatkan satu ftgure untuk Aba.
Masalah baru muncul seketika, siapa yang akan menyampaikan usulan ini pada Aba.
Semua mata tertuju pada saya. “Ca ida kan yang tertua, jadi ca Ida yang musti bilang par An-tua.” (“Ca Ida kan anak tertua, jadi Ca ida yang harus menyampaikannya ke beliau.”)
Saya tersudut, saya tahu kami semua takut menyampaikan hal ini pada Aba.Kami tidak mau berspekulasi. Semua adik-adik saya menghindar. Mereka memiliki alasan yang kuat dan tidak dapat dibantah, yakni kedudukan saya selaku anak tertualah yang harus bertanggung jawab. Apalagi saya yang pertama membuka pembicaraan ini.
Kata sepakat telah kami ambil. Saya akan menyampaikan usulan sekaligus dengan figure calon ibu bagi kami. Saya memilih waktu sarapan pagi untuk menyampaikan usulan kami. Dan ketika dengan suara terbata-bata, karena gugup menghadapi Aba, saya memulainya dengan menceritakan saat-saat bahagia kami bersama Ibu. Saya melihat Aba tersenyum, saya menangkap Aba mulai gembira. Ahai... ini entry yang bagus untuk memulainya.
Dengan mengucapkan bismillahirramanirrahim dalam hati, saya melompat ke pembicaraan lain. Saya dengan suara yang rendah menyampaikan bah wa kami anak-anak sayang sama Aba. Dan takut Aba sakit karena bersedih.
Kami juga takut kehilangan Aba. pokoknya kami ingin Aba senang. Ahai saya menangkap cahaya kehidupan di matanya.Aba menghentikan makannya sejenak, melihat ke mata saya, menyentuh lengan saya, “Beta sayang dong samua, apalagi Ibu suseng ada lai.” (“Saya menyayangi kalian semua, terlebih lagi ketika Ibu sudah berpulang.”)
Ah... saya tertegun mendengarnya.
Dengan satu helaan nafas panjang, saya menyampaikan bahwa anak-anak meminta saya menyampaikan apa yang sudah kami rundingkan. Kami juga akan menyiapkan mental untuk itu. “Mangkali katong musti cari Ibu lain par Aba, supaya ada yang hibur Aba.” (“Mungkin sudah saatnya kami mencari pengganti Ibu untuk Aba, biar ada yang menghibur Aba.”)
Ah, akhirnya keluar juga kata-kata yang berat membebani hati saya.
Dalam hitungan detik, ketika kalimat itu sampai ditelinganya dan difaharni dengan baik, saya mendapatkan reaksi yang keras. Aba langsung berdiri di depan saya, dan dengan suara yang keras menembus gendang telinga saya aba membentak saya. “Pakai Otak!” Saya memandangnya tidak percaya. Bukankah itu simbol kemarahan yang tinggi?
Membentak di meja makan adalah hal yang tabu dalam kultur kami. Aba telah melanggar kultur kami. Aba telah melanggar apa-apa yang ditanamkan pada kami sejak kecil.
Sesaat saya melihat ke matanya, merah berkilat. Saya kemudian menunduk takut dan pasrah. Dalam hitungan detik, Aba melangkah, melewati saya, masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam. Tamatlah saya.
Sehari semalam Aba tidak keluar kamar. Saya menunggu Aba keluar dengan perasaan takut-takut. Pintu kamarnya sudah tidak terkunci. Saya masuk mengajaknya makan malam. Tetapi saya hanya mendapati punggungnya. Aba tidur menghadap dinding. Diam, membeku. Ketakutan dan penyesalan semakin membebani kami. Saya menunggu di depan pintu kamarnya di ashar hari kedua sesudah Aba mendiamkan kami. Bukan hanya mendiamkan, makanan yang saya berikanpun tidak disentuhnya. Aba hanya memakan roti yang dibelinya sendiri. Saya bertekad untuk mengakhiri kediaman Aba hari itu juga. Tidak bisa dibiarkan lagi. Saya sudah sampai pada keputusan harus bertindak mengakhiri perang dingin ini.
Dalam menunggu itu, saya melihat Aba berdiri di pintu kamar, saya melihat ke wajahnya, sudah tidak ada lagi kemarahan, yang tinggal adalah kemuraman yang mendalam. Melihat Aba di depan pintu kamar, saya langsung lompat memeluknya. “Aba, maaf beta juga, katong su seng pung Ibu, jang Aba Uang dari katong. Kalau Aba bagini, katong musti pi mana” (“Aba, maafkan saya, kami semua sudah tidak punya Ibu, janganlah Aba hilang dari kami. Jikalau Aba begini, kemana kami harus pergi.”)
Saya merasakan tangan Aba yang besar melingkar di badan saya. Aba mengeratkan dekapannya pada saya. Aba mengangkat wajah saya. Kami bertatapan. Dengan suara pelan tetapi jelas terdengar oleh saya, “Dengar nak, Ibu taiaiu bar si dan ikhlas untuk beta. Jadi Aba seng bisa ganti dengan orang lain.” (“Ibu terlalu bersih (menjaga kehormatannya) dan ikhlas untuk saya. Saya tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain. Nak.”)
Bless... saya menyerah. Mata saya basah. Sebetulnya di sudut hati saya, saya juga tidak menginginkan hal yang serupa.
Saya dan Aba lalu duduk di karpet sederhana kami. Aba menceritakan pada saya bahwa Ibu dan Aba sejak lama “Su seng sama orang muda-muda” (“Tidak seperti pasangan yang masih muda.”)
Bagi Aba, hubungan biologis tidak terlampau penting lagi. Dalam perkawinan ada hal lain yang melebihi itu. Hati Ibu Ica terlalu bersih dan ikhlas untuk Aba. Itu yang mengikat Aba. Apa yang bisa Aba balas untuk semua kebaikan, keilhasan dan kebersihan hati Ibu Ica, menempatkan Ibu saja di hati Aba. “Tidak ada yang melebihi Ibumu, Nak. Kalau Aba sendiri begini, ini juga cara Aba tunjukkan sayang par Ibu sampai kapan pun.”
Saya mengangguk. Aba meraih saya, menyeka yang mengalir, sesaat kemudian Aba mengatakan pada saya.
“Ida, katong tutup pembicaraan ini. Jangan pernah berfikir untuk cari orang lain par Aba. Ibu Ica meskipun su seng ada, su cukup par beta. Jangan ulangi lagi pembicaraan ini.” (“Ida, kita tutup pembicaraan ini. Jangan pernah berfikir untuk mencari orang lain untuk Aba. Ibu Ica, meskipun sudah berpulang, sudah cukup untuk saya. Jangan ulangi pembicaraan ini.”)
Aba meraih tangan saya, mengecup punggung tangan saya. Saya tahu ini gerakan yang jarang Aba lakukan, mencium tangan saya adalah ungkapan sayang yang mendalam dari Aba, meskipun saya anaknya. Aba memberikan saya senyum kelegaan. Kami terdiam lama sekali, mungkin Aba juga seperti saya, mengenang Ibu Ica yang telah pulang.
Ah. Saya memunguti kenangan ini, ketika kami berdebat keras tentang poligami dalam kelas bahasa Inggris di lantai empat PPB UI. Aba meskipun telah menyusul Ibu, tetapi masih menyisakan penghormatan kami padanya. Saya bangga punya Aba Agil. Kebanggaan itu bertambah, justru ketika Aba Agil sudah tidak bersama kami lagi, lelaki yang sebetulnya dengan status sosial yang dimilikinya di Ambon, mampu beristri lagi, bahkan ketika Ibu masih hidup sekalipun...
Akhir Januari, 2007
(Ida Azuz & Asma Nadia)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar