Sabtu, 16 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri Bagian 9


Karya : Asma Nadia

“Hal-hal Sederhana Yang Dirindukan”

“I'm a mother of two kids, and i'm proud of it!”
Apakah yang paling dirindukan seorang perempuan ketika jauh dari tanah airnya?
Sandra Nicole Rolden, penulis dari Filipina iseng-iseng membuat catatan lima hal yang paling dirindukannya sejak di Korea, sebagai berikut:
1. Kitty (her dog)
2. Her boyfriend
3. Her farnily and friends
4. Her kitchen
5. Surnmer time (kami tiba di akhir musim dingin)
Saat itu kami berada di sebuah coffee shop di depan Istana Gyeongbokgung yang indah. Dari enam writers in residence hanya saya, Sandra,mas Cecep dan Surachat Petchelela yang pagi itu memutuskan untuk menghabiskan waktu di Seoul Collection, semacam klub bagi para foreigners di Korea, di mana mereka bisa menonton film film korea setiap pekannya lengkap dengan teks berbahasa Inggris, hanya dengan 3000 won (Rp. 30.000), sambil menikmati teh, kopi atau juice.
Sebuah cara yang nyaman untuk break dari aktivitas belajar bahasa Korea (lima kali sepekan di Korea University) yang cukup melelahkan. Ketika mendengar lima hal yang dirindukan Sandra, maka saya mencoba menganalisa lagi, apa yang paling sa ya rindukan.
1. Caca dan Adam
2. Suami
3. Mami, HTR dan Ibu mertua
4. Kantor
5. Masakan Indonesia
Saya amati lagi list tersebut, dan merasa yakin... ya kelima itulah yang paling saya rindukan. Jauh dari keluarga selama sebulan ini, ada beberapa hal yang berubah pada rutinitas saya. Pertama pola hidup yang jelas jauh lebih teratur, dan tidak seenaknya seperti di Jakarta. Sedikitnya ada tiga kebiasaan jelek saya dulu: tidur menjelang pagi, bangun siang (habis subuh tidur lagi) dan terakhir kerap lupa waktu makan.
Kebiasaan jelek pertama masih belum bisa diubah total dan kadang sungguh menyiksa. Pernah saya sama sekali tidak bisa tidur dua malam berturut-turut dan harus berusaha keras untuk fokus di kampus keesokan harinya.
Yang kedua, alhamdulillah jam berapa pun tidurnya, sempat tidur atau tidak, saya 'hidup' lebih pagi. Dan yang ketiga, soal telat makan... saya jaga benar-benar agar tidak terjadi. Hari kelima di Korea perut saya sempat perih luar biasa gara-gara melewatkan makan siang. Ternyata jamuan makan yang dijanjikan di 63 Building dalam Opening Ceremony, bukan makan siang melainkan makan malam.
Saya benar-benar jeri, sebab dengan perut sakit hingga nyaris pingsan, saya harus menempuh jalan cukup jauh ke subway station terdekat dalam cuaca 2 derajat celcius pula!
Tapi perubahan besar lainnya terkait hal-hal yang saya rindukan. Setelah jauh dari tanah air dan orang-orang yang saya cintai, saya jadi lebih mampu menghargai momen-momen kecil, yang sebenarnya sejak dulu pun saya nikmati. Tiba-tiba saya merasa belum cukup mensyukurinya. Apa saja?
Pertama, saya sangat bersyukur menjadi ibu. Dan kalimat itulah yang dengan bangga saya sampaikan kepada teman-teman dari berbagai negara, ketika cukup banyak yang menyembunyikan status seraya bercanda: Petualangan itu perlu untuk proses kreatif, Asma! Apalagi bagi seorang penulis!
Tetapi saya tidak bisa melakukan itu. Menjadi ibu adalah hal terbaik yang terjadi pada saya dan tidak ingin saya tutupi.
“Yes, I'm a mother of two kids, and i'm proud of it!”
Tapi saya harus memerinci syukur itu lagi, saya kira. Betapa mengantarkan anak-anak tidur, adalah sebuah nikmat yang ternyata telah memberi saya banyak kebahagiaan yang sanggup menghapus kesedihan, kekecewaan dan hal-hal tidak enak yang saya lalui seharian.
Betapa saya bersyukur setiap pagi bisa terbangun dari tidur dan menemukan anak-anak di sisi. Menemani Caca sarapan pagi hingga jemputan sekolah datang, dan melepasnya pergi setelah mencium tangan saya.
Betapa saya bersyukur mendapatkan kecupan di kening setiap pagi oleh Adam ketika dia berpamitan ke sekolah. Betapa saya bersyukur bisa berada di sisi mereka ketika mereka ada masalah. Bahkan ketika keduanya bertengkar dan mencari saya sebagai hakim.
Betapa saya bersyukur ada di dekat Caca, setiap kali dia sedih dan berlari ke arah saya dengan tangan terkembang untuk sebuah pelukan.
Betapa saya bersyukur bisa mendengar kalimat: I love u, Bunda (Caca), I love u, Mama (Adam), atau mendapatkan tatapan Adam yang memandang dalam sebelum berkata: Bunda tahu nggak? Adam tuh cinta sekali sama Bunda!
Kalimat yang biasanya diikuti gerakan tangannya menarik leher saya lembut agar mendekat kepadanya, untuk kemudian mengecup kening saya tepat di tengah-tengah.
Betapa saya bersyukur bisa membaca lembar demi lembar tulisan Caca yang dicoretnya di diary ibu dan anak yang kami miliki, di mana hanya kami berdua yang memiliki akses untuk membacanya.
Betapa saya bersyukur bisa berada di sana, ketika Caca berkata: Menurut Bunda, aku sebaiknya pakai baju apa ya hari ini?
Betapa saya bersyukur bisa bermain kartu tebak-tebakan bersama mereka, bisa mendongeng (meski kadang di tengah kantuk),bisa berjalan sambil menggandeng keduanya di sisi kiri dan kanan saya.
Begitu banyak hal yang harus saya syukuri. Juga suami bertanggung jawab yang Allah kirimkan untuk saya.
Mami dengan 'kecerewetan' dan perhatian yang tak pernah berkurang meski anak perempuannya ini sudah berusia kepala tiga. Ibu mertua yang kerap membawa masakannya ke rumah, dan menjadi teman ngobrol di telepon. Juga kakak baik hati yang Allah berikan untuk saya.
Kakak yang memberi saya hadiah acara ulang tahun saya di rumahnya sebelum keberangkatan. Sahabat perempuan terbaik dan teman jalan-jalan yang mengasyikkan.
Baru tiga pekan, sudah begitu banyak kerinduan. Tapi berada jauh dari mereka untuk rentang enam bulan ini sungguh membuat saya menghargai hal-hal kecil namun ternyata telah menjadi sumber dari banyak kebahagiaan.
Hal-hal sederhana yang kini terasa mewah.
Seoul, 10 April, 2006


“2 x 24 jam”
“Bagaimana perasaan seorang istri, jika menyadari bahwa kebersamaan dengan lelaki yang dicintai mungkin akan berakhir, sebelum 2 k 24 jam?”
Seperti baru kemarin, Nita Sundari, bagian keuangan kami, tergopoh-gopoh berpamitan dari kantor, “Mbak Asma, Nita pamit dulu...” Ada nada panik pada suaranya ketika melanjutkan, “Adik ipar Nita, suaminya Inge kecelakaan motor.”
Kebersamaan kami sejak awal mendirikan Penerbit Lingkar Pena, cukup membuat saya mengenal sosok Nita Sundari dengan baik.Pribadi bertanggung jawab yang tidak segan-segan melemburkan diri di kantor demi menyelesaikan tugas-tugasnya. Situasi sang adik ipar mestilah mengkhawatirkan hingga Nita sampai merasa perlu segera meninggalkan kantor.

Ujian di tahun kelima perkawinan
Saya tidak mengenal sosok Inge, adik Nita dengan baik. Hanya satu dua kali pertemuan. Hingga peristiwa kecelakaan motor hari itu, yang meninggalkan catatan mendalam di hati saya.
Usia perkawinan Inge dan Taufik Rahman baru menginjak tahun ke lima ketika peristiwa pahit itu terjadi. Lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan di LSM UI Depok itu ditemukan orang tergeletak dalam keadaan luka parah di jalan menurun se telah Universitas Indonesia.
Sampai saat ini tidak ada kejelasan bagaimanakah peristiwa sebenarnya. Apakah Taufik terjatuh mengingat memang ada lubang besar tidak jauh dari motornya ditemukan, ataukah lelaki itu merupakan korban tabrak lari?
Kondisinya masih sadar ketika orang-orang membawanya ke RS. Tugu, kemudian dirujuk ke RS UKI. Masih bisa mengatakan lapar, atau protes ketika pakaiannya hendak dibuka di UGD.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Inge, ibu dari tiga orang anak, ketika kemudian dokter datang, dan memberinya dua pilihan; Taufik harus segera dioperasi, sekalipun peluang berhasil tidak besar.
Pendarahan di otak terlalu parah, ada kemungkinan setelah operasi dilakukan, kalaupun selamat maka akan menimbulkan cacat mental, dalam pengertian suami Inge nanti akan berbicara dan bersikap tak ubahnya anak-anak.
Tetapi jika tidak dioperasi maka Inge dan anak anak tinggal menunggu waktu, hanya bisa pasrah menyaksikan lelaki terkasih itu berpulang.
“Operasi...''
Keputusan itu akhirnya keluar dari bibir Inge.
Saya kira istri mana pun akan berjuang dan memberikan yang terbaik demi pendamping hidup mereka. Apalagi hubungan keduanya sangat harmonis. Inge dan Taufik telah saling melengkapi selama bertahun-tahun, nyaris tanpa pertengkaran.
Operasi dilakukan di tempat. Melihat keadaan Taufik, dokter tidak berani memindahkannya dari UG D dan membawanya ke ruang operasi.Semua benar-benar berpacu dengan waktu.
Masa-masa kritis itu...
Setelah selesai operasi, dokter memanggil pihak keluarga, dan bicara pada sepupu keluarga yang me wakili. Tidak berapa lama setelah sepupu mereka menyampaikan hasil kesimpulan dokter, Inge langsung pingsan, diikuti ibu mertua dan terakhir Ibu Inge ikut pingsan.
Kondisi pasca operasi Taufik terbilang sangat buruk.
“Kita lihat dalam 2 x 24 jam.”
Jika lelaki itu bisa melewati masa kritisnya, maka kemungkinan besar Taufik akan selamat. Jika tidak, maka 2x 24 jam itulah sisa waktu yang dimiliki Inge bersama lelaki yang dicintainya.
Hhh... saya tidak kuat membayangkan jika harus berada di posisi Inge saat itu. Terlebih mengingat tiga buah hati mereka, Jihan yang masih berusia tiga tahun,Salsabila yang baru dua tahun dan si bungsu Hamzah yang baru berusia dua bulan, ketiganya masih sangat kecil.
Alhamdulillah 1 x 24 jam pertama terlewati.
Seluruh keluarga menyusun tangan ke atas, terus memanjatkan doa untuk Taufik. Lelaki yang selama ini meski tidak banyak bicara tetapi punya banyak sekali teman. Lelaki sederhana yang kerap menun da-nunda mengganti kacamata, meski sebelah kacanya sudah pecah, untuk keperluan-keperluan keluarga, yang menurutnya lebih penting. Lelaki yang kerap diprotes ipar-iparnya karena dianggap terlalu memanjakan anak-anak.
“Masa sih Mbak... misal anaknya habis pipis. Dia mau tuh turun bantu si kecil bersih-bersih. Terus setiap kali anaknya bilang airnya dingin dan minta air hangat. Buat kita kan repot... apalagi sudah di kamar mandi. Tapi Taufik tuh sabar bukan main. Di-turutin aja meski harus bolak balik ke dapur.”
Begitu sekelumit cerita Nita, yang cukup menggambarkan sosok lelaki itu sebagai bapak yang spesial dan amat dekat dengan anak-anaknya. Cerita-cerita Nita membuat saya diam-diam ikut menunggu perkembangan kondisi lelaki itu. Meski tentu tidak bisa mengalahkan debaran di hati Inge saat detik demi detik bergulir. Akankah sang suami tercinta bertahan dan melewati masa kritisnya yang 24 jam lagi?
Waktu terasa berjalan selambat butiran air yang jatuh satu-satu dari ketinggian, ketika akhirnya telepon berdering.
Pihak rumah sakit mengabarkan kondisi Taufik yang semakin memburuk. Ketika keluarga datang, tampak alat perekam dan pompa jantung yang sudah dipasangkan. Dokter kembali memberi dua kemungkinan. Jika kondisi membaik, maka tindakan akan dilanjutkan. Jika sebaliknya, maka alat medis tersebut akan dilepas, “Sebab itu berarti tubuhnya tidak kuat, bu.” Inge terlihat tabah menerima keterangan dokter. Sejak tiba, menurut Nita, adiknya terus mengaji. Surat yang dilantunkan adalah kesukaan Taufik, surat Ar- Rahman. Fabi ayyi alaa i rabbikurnaa tukadzdzibaan... Maka nikmat Aliah manakah yang kamu ingkari?
Mendengar dan menyaksikan betapa tenangnya Inge membacakan ayat satu demi satu, seluruh keluarga nyaris tak bisa menahan tangis. Tidak juga sepupu mereka yang seorang polwan. Sikap Inge yang bahkan masih bisa tersenyum dan menenangkan ya ng lain semakin membuat yang hadir bertambah-tambah sedih. Dan tepat, ketika ayat terakhir dari surat Ar Rahman dibacakan, Taufik mengembuskan napas terakhirnya, seiring tanda garis mendatar pada alat perekam jantung yang dipasangkan. Allah!
2 x 24 jam.
Ternyata memang sesingkat itulah kebersamaan mereka dengan Taufik; suami, ayah, anak, menantu, dan ipar yang dicintai. Tangis keluarga pecah, satu persatu mendekati Inge. Perempuan berkacamata itu sebaliknya masih terlihat tenang, malah menabahkan sanak keluarga yang menangis saat merengkuhnya. Memberi mereka kalimat-kalimat yang meneduhkan. Meminta mereka semua untuk sabar.
Mata saya tak urung berkaca mendengar cerita Nita, sambil membatin. Betapa tabahnya Inge. Betapa tawakalnya dia. Betapa hebat perempuan muda itu mengemas air matanya!
Sampai saat ini, tiga tahun sejak peristiwa itu, Inge masih terus menyimpan kenangan tentang almarhum Taufik dengan baik dan rapi. Kerap kali lontaran kenangan muncul dalam percakapan Inge dengan keluarganya. Meski mereka berusaha tidak lagi menyinggung-nyinggung tentang lelaki itu.
“Pernah Nita cerita, Mbak. Kepala Nita pusing kayak vertigo. Langsung aja Inge menyambar, 'Inge juga pernah begitu, sakit kepalanya. Terus dipijitin sama Taufik sampai hilang sakitnya...' “
Atau ketika keluarga menyantap sate kambing, “Wah, ini makanan kesukaan Taufik, nih!”
Terkadang kalimat serupa lahir dari Jihan, terutama saat mereka ke Kebun Binatang atau saat me reka melewati lapangan bola, “Jihan pernah diajak abi ke situ... terus main sama temannya abi.”
Kalimat yang diam-diam membuat air mata yang mendengar terasa tertahan di pelupuk. Siapa yang menduga kenangan-kenangan terakhir dengan ayahnya begitu melekat dalam ingatan si sulung? Padahal Nita bahkan tidak terlalu yakin apakah Jihan mengerti arti kepergian ayahnya, ketika mereka semua menjelaskan kepada Jihan bahwa mulai saat itu abi akan tidur di sana (sambil menunjuk ke arah gundukan tanah).
“Tapi Inge tidak pernah menangis selama prosesi?” Nita menggelengkan kepala.
“Selama tujuh hari saya dan Ika (adik Nita yang lain) menemani Inge. Kalau bertemu kami pasang wajah biasa. Baru ketika pulang saya dan Ika menangis, tidak kuat melihat sabarnya Inge...”
Hanya satu alasan yang mampu memberi kekuatan pada seorang ibu, apa pun kondisinya: Anak-anak.
Nita mengiyakan.
Sepertinya memang itulah alasan kuat kenapa Inge berusaha tegar menghadapi kepergian Taufik. Betapapun hatinya menangis, betapa pun gamang karena sejak itu dia akan hidup dan membesarkan anak-anak tanpa ayah. Tapi anak-anak masih kecil. Si bungsu malah masih menyusu.
Dan seorang ibu yang baik mengerti betul betapa pentingnya ASI ba gi anak-anak, dan betapa mudahnya situasi batin ibu mempengaruhi kelancaran keluarnya ASI.
Hhh... saya lagi-lagi hanya bisa menarik napas dalam.
Beberapa detik saya dan Nita hanya terdiam. Barangkali membayangkan bagaimana jika hal serupa terjadi pada kami masing-masing. Akan kuatkah?
“Dan Inge tidak pernah menangis?” Nita, perempuan berkulit hitam manis itu tidak langsung menjawab.Barangkali mengajak ingatannya kembali ke hari-hari yang memilukan itu, “Hanya sekali, Mbak... sebulan setelah meninggalnya Taufik. Ya... setelah sebulan, dan hanya sekali itu.”
Dalam kenangan cinta: 22 Februari 1974 -
Taufik Rahman 17 Maret 2005


Tidak ada komentar:

Posting Komentar