Minggu, 10 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri Bagian 1


Karya : Asma Nadia

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

“Kalau saya menikah lagi, itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik.”
Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.
Saya lupa bagaimana awalnya hingga Pak Haris menyinggung poligami. Kebetulan saya tertarik dengan persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.
Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi? Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata...
“Sejujurnya Mbak Asma, hanya ada satu alasan inti kenapa lelaki menikah lagi.”
Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak baik-baik.
“Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan, atau alasan lain. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya jatuh cinta. Titik. “
Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.
Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam mobil. Saya dan teman yang memang bekerja di penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.
Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.
“Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk menikah lagi. Sungguh keinginan itu datang begitu dahsyatnya.”
“Padahal Ramadhan ya, Pak?” Lelaki itu tertawa, mengiyakan.
“Dan saya kira saya hampir saja berpoligami, kalau saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang memberi satu pernyataan yang luar biasa benar dan akhirnya berhasil mengubah niat saya.”
Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak Haris berikutnya.
“Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma... Jika saya menikah lagi: Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua belum tentu... karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa yang diluar kelihatan bagus, dalamnya belum tentu. Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah, belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak kejadian seperti itu.”
Benar sekali, komen saya dalam hati.
“Yang kedua, Pak?” Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan serius.
“Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan itu akan abadi.”
Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum menuntaskan kalimatnya, “Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil resiko yang kerusakannya pasti dan permanen?”
Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak tahu bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.
Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada dalam Qur'an, tetapi cenderung menyetujui pendapat seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari'at poligami pada dasarnya adalah monogami. Artinya dalam keadaan normal, monogami tetap lebih utama. Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri?
Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai menelantarkan istri pertama dan anak-anak nya.
Untuk kebahagiaan yang belum pasti?
Teringat seorang teman asal Malaysia yang saya temui di Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah telah karuniakan kepadanya, “Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum ada...”
Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di negeri yang sebagian besar penduduknya non muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya. Apalagi setelah saya katakan bahwa saya seorang penulis. Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.
“Ini takdir,” katanya,”Saya tidak pernah sengaja mencari istri lain.”
Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.
Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua istri, ceritanya semakin menarik. Terakhir saya tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah menikah lagi?
Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu tampak termenung cukup lama sebelum menjawab, “Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.” Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa tahun lalu.
Seoul, 18 Agustus 2006

2 komentar: