Minggu, 10 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri - Prolog


Saat cinta berpaling
dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil
saat prahara terjadi
saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri
kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan agar hati mampu terus bertasbih?

Catatan Hati Seorang Istri - Prolog
Karya : Asma Nadia
Telah lama saya meneropong; tidak hanya ke dalam hati sendiri, melainkan mencoba masuk ke bilik hati perempuan lain, lewat kisah-kisah yang mereka bagi kepada saya.
Selama bertahun-tahun pula saya mencatat berbagai kisah itu dalam ruang hati, seraya berharap suatu hari bisa menuliskannya.
Catatan Hati Seorang Istri, memuat sebagian kecil peristiwa itu. Isinya kisah-kisah yang mengharu biru dan membuat saya ternganga. Sebab ternyata betapa dahsyat kekuatan yang dimiliki perempuan, sosok yang seringkali dianggap lemah, tidak berdaya, dan pada tataran tertentu sering hanya dianggap sebagai rnahluk nomor dua.
Buku ini, meski tidak begitu banyak, merekam perjalanan saya sebagai perempuan, istri dan ibu dari dua orang anak. Juga pengalaman, dialog hati, pertanyaan dan ketidakmengertian saya tentang isi kepala dan sikap lakilaki.
Kekecewaan, kemarahan dan kesedihan bahkan keputusasaan yang tergambar, mudah-mudahan dapat sedikit mewakili potret sebagian perempuan (baca: istri).
Demi menghargai nara sumber, beberapa detil sengaja saya samarkan, namun pada intinya tidak mengurangi esensi cerita.
Harapan saya Catatan Hati Seorang Istri, bisa membawa pembaca pada kesiapan yang lebih baik, ketika kita (dan bukan cuma tokoh-tokoh dalam buku ini) mendapat ujian serupa. Bukankah ujian itu Allah pergilirkan pada tiap-tiap hamba? Cinta yang lepas dari genggaman? Orang tercinta yang selama bertahun-tahun selalu di sisi kita, kemudian Allah memintanya untuk kembali ke haribaan-Nya. Siapkah? Ikhlaskah? Siapkah secara iman?
Pemikiran demikian membuat saya takut. Khawatir akan iman dan keikhlasan yang tidak seberapa. Ragu akan kemandirian, karena bertahun-tahun saya merasa dimanjakan dan menjadi tergantung kepada pasangan dalam banyak hal. Kesiapan menghadapi apapun takdir-Nya, sungguh bukan perkara mudah.
Mengingat hidup selalu memiliki warna yang berbeda, saya mengajak kepada sesama perempuan untuk mulai menulis. Catat tidak hanya kenangan indah, tetapi juga semua pikiran, beban perasaan, kesedihan, ketakutan, apa saja, sebelum terlambat untuk menuliskannya.
KDRT yang semakin marak, hingga tak jarang merenggut nyawa seorang istri. Ibu menghabisi anak kandungnya justru karena cinta...
Sungguh batin saya seperti dikoyak melihat semua tragedi yang melibatkan perempuan. Karenanya saya ingin kita sama-sama berjanji. Berjanji untuk mencari teman bicara. Berjanji untuk mencoba menuliskan setiap kegelisahan yang kita alami. Berjanji untuk menjadikan tulisan itu cermin dan renungan, sebab mungkin itu akan membawa kita pada jalan keluar, yang sebelumnya terasa teramat buntu.
Kaitlyn, Aliet Sartika, Nejla Humaira, mbak Ya-yu, dan Ida Azuz. Mereka telah memulai dan mengisi ruang yang belakangan ini selalu saya sisipkan dalam buku-buku terbitan Lingkar Pena. Buat perempuan yang lain, sungguh saya menunggunya.
Ah. Kini waktunya berdoa dan meminta kepada-Nya lebih sering. Sebab semakin hari, saya menyadari kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah sedemikian besarnya. Semoga Allah memberi kekuatan bagi semua semua harnba-Nya, khususnya para perempuan. Amin.

Salam
Asma Nadia


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar