Sabtu, 16 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri Bagian 10


Karya : Asma Nadia

“Dua Pasang Suami Istri”

“Dalam keadaan cacat fisik dan kekurangan materi, apakah yang menjadi sumber kebahagiaan keduanya?”
Dua peristiwa. Dua pasang suami istri yang tidak saya kenal. Satu pertemuan.
Dan seumur hidup saya, kemungkinan besar hanya sekali itulah saya bersinggungan dengan keduanya. Itu pun tidak lebih dari sepuluh menit. Tapi ikatan kuat di hati setiap pasangan suami istri itu, begitu menyentuh.
Gunung Sahari, 22 Oktober 2006
Saya bertemu dengan pasangan suami istri ini saat bersama teman-teman Rumah Cahaya Pusat melaksanakan kegiatan tahunan kami. Setelah selama sebulan mengumpulkan sumbangan dari teman-teman melalui milis dan biog, tiba saatnya menyalurkan amanah yang diterima.
Persis seperti tahun sebelumnya, beberapa hari menjelang hari raya Iedul Fitri kami menyusuri jalan-jalan Jakarta. Dari Depok, Buncit, Saharjo, masuk ke Manggarai, terus menuju Jalan Proklamasi, mengarah ke Mangga Dua, Tubagus Angke dan berakhir di Grogol, kemudian kembali dengan rute yang hampir sama.
Sebenarnya paket dalam kantung plastik hitam yang kami salurkan tidak terlalu banyak. Isinya pun sederhana saja, terdiri dari sirup, indomie, biskuit kaleng, astor, kurma dan susu kaleng, ditambah sedikit uang dalam amplop.
Tetapi saya dan sahabat-sahabat dari rumah cahaya berusaha untuk memilih betul target yang menerima, agar tidak salah sasaran ke pengemis musiman yang hijrah berbondong-bondong memenuhi ibukota setiap lebaran.
Hari telah gelap ketika saya dan teman-teman melewati pemandangan yang tidak biasa: lelaki tua yang mengayuh sepeda bututnya pelan-pelan. Di belakangnya duduk sang istri. Punggungnya penuh oleh buntalan barang yang dihampirkan dengan sehelai kain batik.
Yang menarik adalah tangan si istri yang dipenuhi kantung plastik tapi berusaha keras meraih pinggang suaminya.Meski kadang terlepas karena mengatur keseimbangan.
Sepeda melaju tenang. Si bapak terlihat hati-hati. Sekilas pandang, saya yang melintas, bisa melihat wajah si bapak tua yang berkilat oleh keringat, seolah telah menempuh perjalanan jauh.
Beberapa kejap tatapan saya masih terpaku pada tangan kurus milik ibu tua yang seperti sebelumnya berusaha meraih pinggang si bapak.
Momen sederhana yang terasa penuh makna dan menyedot perhatian saya. Dan kenyataan pakaian keduanya yang lusuh, atau sandal jepit sekarat yang mereka kenakan menjadi tidak penting.
Sebelah tangan kurus yang jatuh bangun berusaha bertaut pada sosok tua si bapak. Romantis!
Ketika kami meminta mereka berhenti, raut keduanya tampak kaget. Si bapak seketika turun. Istrinya melakukan hal yang sama, dan cepat mengambil posisi di belakang, seolah mencari perlindungan dari soso kurus si bapak yang kini terlihat heroik dan gagah di mata saya. Saya dan sahabat-sahabat rumah cahaya sempat bercakap-cakap dengan pasangan suami istri ini. Dugaan terdahulu saya benar, berduaan mereka telah menempuh perjalanan cukup jauh untuk berdagang makanan di suatu tempat.
Ah, berapa lama mereka sudah bersama? Paling sedikit tiga puluh tahun, pikir saya sambil mengamati sepeda tua yang catnya telah mengelupas dan kedua bannya nyaris gundul.
Ketika salah seorang dari kami mengulurkan kantung plastik hitam yang tidak seberapa itu, wajah dua orang tua itu langsung saja tersenyum. Rasa syukur mereka wujudkan dengan kalimat harnda-lah dan terima kasih berulang-ulang.
Saya melihat si ibu menerima bingkisan sambil melempar pandangan ke arah suaminya, penuh arti.
Kehidupan mereka pasti tak mudah, batin saya sambil merayapi guratan usia di wajah keduanya.
Garis-garis yang lahir ditempa kerasnya kehidupan di Jakarta. Tapi kemesraan sederhana namun indah yang sampai ke mata saya dan teman-teman, terlalu rne-nyolok untuk luput dari perhatian.
Dengan pemikiran seperti itu, saya melepas mereka. Kaki kurus si bapak kembali menggenjot sepeda, di belakangnya sang istri duduk dengan sebelah tangan memegang erat-erat beberapa barang.
Dan barangkali seperti ribuan hari sebelumnya, sebelah tangannya yang lain, diantara kantung plastik lain yang memenuhi tangannya, berusaha menggapai pinggang bapak tua.

Song Gwang Sa Temple, 3 September 2006
Pertemuan dengan bapak dan ibu tua yang berboncengan sepeda, menarik ingatan saya pada pasangan lain yang meninggalkan kesan serupa beberapa bulan sebelumnya.
Fieldtrip terakhir bersama rombongan Writers in Residence. Ada beberapa tempat yang telah ditentukan oleh Yea Jin, program manajer kami selama di Korea, untuk dikunjungi: Oedo island, Bosung Tea Farm, dan dua temple terkenal.
Tempat-tempat yang indah. Oedo Paradise Island merupakan pulau pribadi yang seperti namanya, dibangun menyerupai bayangan surga oleh pemiliknya. Saya yakin hanya dengan cinta dan kesungguhan pulau yang konon awalnya tandus bisa ber ubah menjadi surga tanaman tropis, dengan lebih dari 3000 jenis tumbuh-tumbuhan, diantaranya Canellias dan Kaktus.
Masih dengan benak menyimpan keindahan Oe do Island, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Song Gwang Sa Temple.
Saat bis akhirnya berhenti, kami semua turun dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Saya ingat hanya berjalan sendirian karena teman-teman lain memutuskan untuk makan siang dahulu.
Tetapi langkah-langkah cepat saya segera terhenti. Ada 'sesuatu' di hadapan yang menyita perhatian saya.Satu pemandangan yang bagi sebagian besar pendatang mungkin bukan apa-apa, terbukti begitu banyak orang yang melintas hanya satu dua yang berhenti dan menghampiri. Sepasang pengemis tua yang buta, duduk di atas tikar kecil, tepat di sisi kiri jalan setapak, beberapa meter dari gerbang.
Hati saya langsung berdesir. Ah, cinta seperti apa yang mempertemukan mereka? Cinta seperti apa pula yang tidak kunjung memisahkan keduanya?
Imajinasi saya sebagai penulis sontak membayangkan betapa suami istri tua itu telah melalui sebagian besar bilangan usia mereka dalam hari-hari yang sulit. Bukan hanya bahu membahu untuk makan sehari-hari, tetapi juga saling membantu dalam melakukan aktivitas harian yang sederhana. Kesulitan yang semakin menjadi ketika usia bertambah tua.
Barangkali mereka tidak memiliki anak. Hingga suami menjadi tumpuan istri, begitu pun sebaliknya. Allah, bagaimana jika salah satu sakit? Bagaimana mereka merawat pasangan dalam keterbatasan fisik?
Ketika jalanan semakin sepi, saya melihat keduanya mengobrol. Ada senyum yang sesekali terlihat di wajah sang istri. Senyum yang sama yang terkadang terulas di bibir suaminya. Mungkin mereka membicarakan hal-hal yang lucu. Mungkin juga bergembira membayangkan hasil mengemis hari itu.
Entahlah. Tapi kebersamaan keduanya sungguh di luar nalar saya. Dalam keadaan cacat fisik dan kekurangan materi,apakah yang menjadi sumber kebahagiaan keduanya?
Terlintas di pikiran saya tidak sedikit suami istri yang bertengkar karena kurangnya saling pengertian, saling menyalahkan atas sikap-sikap yang dianggap menyinggung dan tidak berkenan. Atau seperti pasangan-pasangan lain meributkan uang belanja yang tidak cukup, sementara harga-harga sernbako semakin tinggi.
Ahh... sepasang pengemis tua yang buta itu mungkin tidak memiliki apa-apa.Saya yakin sebagian besar di antara kita jauh lebih kaya. Tetapi sesuatu yang teduh dan menenangkan menelusup dalam hati, ketika saya memandang mereka lekat.
Pertemuan dengan kedua pasang suami istri ini telah membuka mata saya terhadap bentuk cinta yang indah.Sungguh, mereka memiliki cinta yang tidak setiap orang memiliki, bahkan oleh orang-orang yang dilimpahi keberkahan materi sekalipun. Barangkali karena cinta seperti itu hanya diberikan Tuhan kepada mereka yang terpilih.

“Mami”
“Memang Mami sering menangis di hadapan kami, tapi selalu menangisi orang lain.”
Pengorbanan, Itu yang menjadi catatan pertama, ketika mencoba melakukan kilas balik dan belajar dari kehidupan Mami menjaga perkawinan selama nyaris empat puluh tahun.
Terlahir dengan nama Liauw Min Hoa, ibunda saya adalah putri dari Leo Arifin, pengusaha berdarah Jawa dan Cina yang sukses membangun bisnis transportasinya kala itu.
Menikah dengan Papa barangkali menjadi ke-putusan paling besar dalam hidup Mami. Sebab menikah dengan lelaki berdarah Aceh itu berarti Mami harus meninggalkan tradisi Katholiknya dan menjadi seorang muslim.
Keputusan yang menimbulkan konflik baru: menikah tanpa restu.
Saya membayangkan kisah cinta romantis ketika mengetahui hal ini. Keberanian Papa, ketabahan dan kekuatan hati Mami. Pastilah ibunda saya memiliki banyak pertimbangan, kenapa tidak menempuh cara seperti yang belakangan popular di tanah air, pernikahan beda agama. Padahal sebagai gadis belia paras Mami tergolong cantik dan menarik, keturunan keluarga terpandang di Medan pula. Artinya tidak akan sulit bagi Mami untuk mendapatkan pendamping lain.
Dengan kata lain Mami bukan tidak memiliki bargaining position ke Papa. Meski mungkin tidak akan mudah, sebab Papa berasal dari keluarga muslim yang dihormati barangkali di seluruh Sumatra. Untuk satu titik temu itulah Mami berkorban.
Dan mengikuti kehidupan gadis Liauw Min Hoa yang kemudian berubah nama menjadi Siti Maryam itu, berarti mengikuti tahap demi tahap kehidupan yang penuh perjuangan dan pengorbanan.Sebab Pa pa dengan profesi pemain musik kala itu tidak bisa memberikan kehidupan mewah yang dulu menjadi ke seharian Mami.
Hijrah ke Jakarta, pasangan itu bertekad hidup mandiri. Saya masih ingat meski samar, betapa kami berempat (waktu itu adik saya belum lahir); Papa, Mami, saya dan kakak sempat tinggal di wilayah kumuh di samping rel kereta api Gunung Sahari. Sebelum berpindah-pindah dari rumah petak satu (yang hanya memiliki satu kamar, dan kamar mandi di luar menyatu dengan rumah induk) ke rumah petak yang lain.
Sebagai pencipta lagu dan pemain musik, Papa bukanlah sosok yang malas. Beliau berusaha sekuatnya untuk menafkahi istri dan anak-anak. Bermain musik hingga menjelang pagi di tempat-tempat hiburan, sementara menjual lagu ke produser rekaman begitu sulitnya, hingga bisa dibilang keluarga kami nyaris tidak memiliki pemasukan tetap setiap bulannya.
Saya kembali membayangkan perubahan drastis gadis bernama Liauw Min Hoa dalam mengikuti kata hatinya.
Tetapi pernahkah saya melihat sedikit saja Mami mengeluh kepada kami, anak-anaknya? Tidak!
Pernahkah sedikit saja terbersit perasaan menyesal telah menikah dengan Papa? Tidak!
Pernahkah Mami termenung-menung lama bernostalgia dengan masa lalunya sebagai gadis cantik dari keluarga amat berada? Tidak.
Di mata kami, Mami selalu terlihat bersemangat dan tidak pernah putus asa.
Kami tiga kakak beradik tumbuh remaja dan mencatat perjuangan Mami yang luar biasa. Sebagai ibu dari tiga orang anak, Mami mendidik kami dengan tegas tapi juga hangat. Keluarga kami memang minim secara materi, tetapi Mami memastikan anak-anak berpakaian pantas, memiliki peralatan sekolah juga seluruh buku pelajaran. Tidak jarang beliau membantu mencari tambahan penghasilan dengan menjual sprei, baju dan apa saja yang diambilnya dari seorang teman.
Saya tidak mengatakan Mami berhasil mendidik anakanaknya hingga jadi 'orang'. Sebab secara materi dan prestasi anak-anak Mami rasanya biasa saja. Malah masih banyak yang belum bisa kami berikan kepada orang tua, terutama Mami sebagai rasa hormat dan cinta kami pada perjuangan beliau.
Tetapi tidak satu dua teman lama Mami yang masih menghubunginya hingga saat ini (Mami memang sangat menjaga silaturahirn, ini satu lagi nilai penting yang saya catat namun belum bisa contoh dengan baik), mengomentari Mami sebagai ibu yang beruntung karena berhasil mendidik anak-anaknya hingga semua mapan.
Ah, inikah jawaban bagi pertanyaan saya, ketika mendengar kisah hidup mereka yang berhasil padahal terlahir dari keluarga rniskin?Benarkah itu berpulang pada bagaimana sosok ibu dalam keluarga membesarkan, memberi energi positif dan menempatkan pendidikan sebagai prioritas bagi anak-anak nya, apapun kendalanya?
Meski harus berhutang ke kanan kiri, meski harus bolak balik ke sekolah meminta keringanan, meski harus berjuang hingga kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki?
Pendidikan anak itu nomor satu!
Situasi berbeda yang saya temui ketika menemani wartawan dari harian Boston, mencoba menelusuri sindikat penjualan bayi. Kami mewawancarai seorang ibu yang pada awalnya dicurigai polisi telah menjual 3 anak kandungnya.
Belakangan terkuak bahwa perempuan itu telah dibodohi hingga mau 'menitipkan' bayinya ke seorang ibu yang kemudian menjualnya ke pasangan asing secara ilegal.
Sebagai imbalan (yang sebetulnya nyaris tak ada) maka biaya melahirkan ditanggung dan ada ha diah berupa beras lima kilogram, minyak tanah, gula dan susu beberapa kaleng yang diserahkan kepada keluarga yang melahirkan.
Selama wawancara, saya perhatikan perempuan yang tampak pucat karena baru saja melahirkan anak ke tujuhnya. Sang suami yang tidak memiliki pekerjaan, duduk di lantai dekat istrinya. Sementara ketiga anak mereka yang lain tampak bermain di luar.
Dari manakah sumber pendapatan keluarga?
Jawabannya tertumpu pada sosok anak lelaki mereka yang baru berusia 12 tahun,yang telah berhenti sekolah sejak lama. Setiap hari anak lelaki ini pergi ke pasar menjual plastik atau membantu ibu-ibu, membawakan barang belanjaan mereka yang berat.
“Sebulan bisa dapat tiga ratus ribu, mbak.”
Hati saya miris membayangkan kehidupan bocah berusia 12 tahun yang putus sekolah, juga adik-adiknya, yang bisa jadi tumbuh besar kemudian menapaki siklus kemiskinan yang sama, yang telah dilakoni orang tuanya tanpa punya keterampilan untuk mengubah nasib.
Yang paling menyedihkan adalah saya tidak menemukan buku kecuali buku tulis di rumah mereka. Saya tahu pasti karena pada kedatangan kedua dan ketiga, saya mengikuti Jonathan, fotografer dari tabloid asing tersebut masuk hingga ke sudut-sudut rumah.
Saya ingat Mami dan kehidupan kami yang sama miskinnya dulu. Di luar hal-hal lain yang membedakan, saya merasa beruntung karena Papa terus berusaha. Karena Mami tidak menyerah dan mengedepankan pendidikan.
Semua anak-anak Mami bisa membaca sebelum sekolah dasar, meski tidak melalui pendidikan TK. Semua anak-anak Mami memiliki waktu belajar yang cukup. Untuk itu Mami tidak pernah merepotkan anak anak dengan tugastugas dapur, beliau mengerjakan semuanya sendiri, meski di kemudian hari ini membuat anak-anak perempuan Mami tidak piawai untuk urusan masak-memasak.
Ahh, kembali pada ibunda yang saya cintai. Seolah ujian tidak cukup menghampiri beliau, di usia ke tujuh saya divonis dokter menderita gegar otak, jantung dan paru-paru hingga membutuhkan pengobatan yang intensif bertahuntahun dengan biaya yang tidak sedikit.
Runtuhkah pertahanan Mami? Tidak!
Memang Mami sering menangis di hadapan kami, tapi selalu menangisi orang lain. Anak cacat yang dilihatnya dalam perjalanan ke pasar. Pengemis tua yang nyaris tak bisa lagi berjalan, ibu-ibu yang berpakaian lusuh dan tanpa alas kaki yang mencegatnya meminta tambahan ongkos. Kami bahkan biasa melihat Mami menangis ketika dari layar tivi yang hitam putih, terpampang peristiwa pembongkaran pedagang kaki lima yang dikejar-kejar aparat, atau berita kebakaran dan musibah lain di tanah air.
“Kasihan...” ucap beliau dengan isak yang keras seolah salah satu keluarga dekat kami baru saja meninggal dunia.
Ibunda kami tak pernah kehilangan syukur, harapan juga doa.
Doa dengan caranya yang lugu, sebab Papa dengan kesibukannya mencari nafkah tidak cukup punya waktu untuk membimbing Mami menjadi muslimah dengan pemahaman agama yang lebih. Tetapi rasa syukur Mami rasanya melampaui pemahamannya yang sederhana tentang Islam.
Setelah dua anaknya menikah dan mulai bisa memberi, berapa pun pemberian kami, rasa terima kasih Mami jauh lebih besar.
“Terima kasih ya, sayang. Mami doakan semoga kamu sekeluarga sehat dan diberikan kelapangan rejeki.”
“Terima kasih banyak, Rani... membantu sekali.”
“Terima kasih banyak Evy...”
 “Eron juga sekarang sudah bisa bantu, Mami. Alhamdulillah anak-anak Mami sayang sama Mami.”
Padahal pemberian kami tidak seberapa. Padahal Mami layak mendapatkan lebih dari itu!
Ketika saya mendengar kisah dari teman-teman yang sudah menikah dan kerap 'direcoki' orang tua, saya nyaris tidak menemukan itu. Mami tidak pernah meminta kepada anak-anaknya.
Mami masih sosok perempuan yang sama yang membesarkan kami tanpa keluh kesah. Yang amat 'tahu diri' dan berusaha keras tidak merepotkan anak-anaknya setelah mereka menikah.
“Kalian kan punya keluarga sendiri sekarang, harus hemat-hemat, nggak usah kasih Mami apa-apa.”
Kalaupun sangat terdesak, Mami akan memilih meminjam ke teman-temannya ketimbang mengadu pada anak. Hal yang membuat saya kembali ingin menangis.
“Anak-anak Mami mungkin belum kaya, tapi Mami nggak perlu pinjam ke orang lain untuk urusan ini itu,” tegur saya suatu hari.
Sementara Mami hanya menatap sayang kepada saya dan menjawab hati-hati, “Mami takut kamu lagi susah.”
Bukan hanya perkara uang yang membuat saya haru, tetapi bagaimana Mami mencatat kebaikan, sedikit apapun dari anak-anaknya dengan rasa syukur yang luar biasa.
“Rani itu anak istimewa,” cetusnya suatu hari ketika seorang wartawan dari Bandung mewawancarai saya dan kebetulan menemukan sosok Mami.
Dan Mami pun menjelaskan panjang lebar kepada si wartawan, betapa anaknya yang bernama Rani itu selalu prihatin sejak kecil dan tidak pernah melawan orang tua.
“Sampai besar pun dia tidak pernah menyakiti hati saya,” lanjut Mami lagi.
Apakah anaknya nomor dua itu tidak pernah berbuat salah?
“Bagaimana dia sempat menyakiti atau bikin dosa kepada saya jika sehabis bertemu selalu mencium tangan dan minta maaf? Coba bayangkan, orang gajian misalnya, kan wajar jika ada keterlambatan. Tetapi Rani jika memberikan bulanan misalnya terlambat satu atau dua hari, pasti dia sms atau telepon, kasih tahu dan meminta maaf. Itu sebabnya... bagi saya dia anak istimewa.”
Allah...
Saya mendengar cerita itu dari Mami di taksi, setelah saya bertanya sebenarnya apa saja yang Mami obrolkan dengan si wartawan.
Saya geleng-geleng kepala dengan 'anak istimewa' yang Mami bicarakan. Julukan itu sungguh tidak pantas saya sandang. Sebagai manusia kesalahan saya bertumpuk, sebagai anak, saya masih belum bisa membalas kebaikan orang tua.
Saya tatap Mami lekat-lekat dalam sisa perjalanan, dengan hati mengucap doa: Semoga Allah mencatat setiap pengorbanan, setiap rasa syukur, setiap keikhlasan Mami dan memberinya kebaikan yang berlimpah. Allahumma Amin.

“Setelah 11 tahun”

“Tahukah cinta, betapa tampan dan berseri-serinya wajahmu malam itu? Saat kau meminta maaf berulangulang.”
Apa yang Disa kukatakan tentangmu?
Suamiku yang bertanggung jawab. Lelaki pengertian, yang selalu memperlakukan istri, anak, orang tua, sanak saudara dan tetangga-tetangganya dengan amat baik. Engkau mengajariku hidup apa adanya.
“Jangan pernah lupa mensyukuri nikmat,” nasihatmu berulang kali.
Engkau juga yang mengajariku untuk tidak mempermasalahkan hal-hal yang kecil.
Sebelas tahun menikah, sulit bagiku untuk mencari kekuranganmu, sebaliknya harus kukatakan begitu banyak pelajaran yang kau ajarkan padaku, dengan sayang... dengan cinta.
Sebelas tahun, mungkin cukup lama menurut orang, tapi masih terlalu singkat untukkku. Dan selama sebelas tahun ini tidak sedetikpun perasaanku terhadapmu berubah. Jika saja boleh dan tidak diledek oleh para ABG, akan kuteriakkan perasaanku pada dunia:
Kau pujaanku, tambatan hatiku.
Panutanku, kebanggaanku,
Pahlawanku...
Kau, yang selalu mengalirkan kekuatan dalam setiap denyut nadiku.
Kekuatan yang kini coba kutemukan, dalam kesendirian,
dengan membayangkan sosokmu.
Tahukah cinta, betapa tampan dan berseri-serinya wajahmu malam itu? Saat kau meminta maaf berulangulang.
Awalnya kukira permintaan maaf itu karena keterlambatan pulang. Sebab kau masuk rumah ketika jam berdentang dua kali di pagi hari. Selepas melawat salah satu tetangga kita yang ibu nya baru saja meninggal.
“Maafkan ayah, Bu. Maafkan ayah...” Cinta, harusnya kau tahu betapa aku selalu mempercayaimu.Sebab tidak pernah ada kesalahanmu yang terlalu besar untuk kumaafkan. Tapi seolah tak yakin, kau masih mengulang-ulang kalimat yang sama hingga tiga kali, Suaramu terdengar amat bersungguh-sungguh sambil memeluk dan mencium keningku. Meski tidak mengerti kuanggukkan kepala, dan mengingatkanmu jika belum shalat isya.
Aku masih ingat bagaimana kau langsung bangkit dan melaksanakan shalat. Setelahnya kau kembali memeluk dan menciumku, sembari mengulang-ulang permintaan maaf.
Ah, kesalahan apa yang harus kumaafkan, Cinta?
Tapi kubiarkan kau memelukku erat hingga beberapa lama. Kutatap wajahmu yang tampak bercahaya. Dari lisanmu terlempar kalimat itu sekali lagi,
“Maafkan, ayah...”
Setelah kalimat itu kau sempat menyebut asma Allah lirih, sebelum terdiam. Hanya suara dengkuran lambatlambat yang terdengar, kemudian kepalamu jatuh di bahuku.
Seharusnya aku mengerti. Maafkan aku yang mengira kau hanya tertidur pulas karena kecapekan. Sempat kubiarkan kau tertidur menelungkupiku. Tetapi karena merasa berat, aku coba rnernbangunkanmu agar berpindah ke sisiku.
“Ayah, bangun sayang...”
Tapi hingga berulang-ulang tubuhmu tetap bergeming. Kaku dalam pelukanku. Ketika akhirnya berhasil memindahkan tubuhmu ke samping, aku mulai panik. Kugoyang-goyangkan badanmu, tapi tak ada reaksi. Panikku bertambah saat kaki dan tanganmu terasa dingin, hanya badanmu yang masih hangat.
Dalam keadaan bingung dan perasaan bercampur aduk, kupanggil kedua orangtuaku yang tidur di ruangan sebelah, kuminta mereka melihat keadaanmu. Tangis mulai tumpah. Aku bahkan sempat menjerit histeris melihat tubuhmu yang terbaring kaku. Meski dengan cepat aku beristighfar... berharap kau cuma pingsan, atau sengaja bercanda dengan berpura-pura pingsan. Kuyakinkan diri bahwa sebentar lagi kau akan bangun dan tersenyum padaku.
Orang-orang mulai datang. Sebagian memang berasal dari rumah tetangga kita yang baru kau jenguk, mereka yang mengaji dan melawat sampai pagi. Seperti aku, mereka coba menyadarkanmu dengan berbagai cara. Sementara kau terbaring tak ubahnya seseorang yang tertidur pulas karena lelah, bahkan masih terselip senyuman di wajah.
Perasaanku semakin tak menentu. Limbung. Kudengar orang-orang bertanya jika aku ingin memanggil dokter atau membawamu ke rumah sakit. Aku mengangguk, tak sepenuhnya mengerti, meski dalam hati aku mulai memohon: Cinta, jangan pergi... Jangan sekarang!
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku masih berharap kau hanya pingsan. Tetapi kenyataan berkata lain. Setelah sampai dan dilakukan pemeriksaan yang teliti, dokter mengucapkan kata-kata yang seolah menggodam kepalaku dengan keras. Badanku luluh lantak. Persendianku terasa copot. Jantungku bagai berhenti berdenyut.
“Maaf, bu. Kami tidak bisa menolongnya.”
Masya Allah!
Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Sebelas tahun perkawinan kita Cinta, dan inilah ujian terberat untukku.
Kepergianmu...
Kupeluk kedua putri kita yang histeris melihatku menangis. Aku sendiri berusaha keras untuk tetap berpijak pada ambang kesadaran, bahwa kau telah dipanggil Sang Pencipta. Aku peluk kedua putri kita lebih erat. Sungguh, jika tidak karena mereka, mungkin aku sudah putus asa, atau hilang kewarasan.
Kepergianmu yang tiba-tiba, bagaimana bisa? Usiamu baru 40 tahun, sehat dan tidak kurang apa pun sebelumnya.
Hari itu Jumat, tepat pukul 3 pagi. Saat kau pergi meninggalkan aku dan dua putri kita yang masih membutuhkan perhatianmu.
Cinta...
Sampai saat ini aku masih sering tidak percaya jika kau benar-benar sudah pergi. Meninggalkan Tari gadis kita yang manis yang baru duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, dan Hana yang baru berusia 6 tahun.
Aku tahu, untuk mereka berdua aku harus kuat dan berjuang. Tetapi beratnya Cinta, betapa beratnya harus melakukan itu semua sendiri, tanpamu.
Alhamdulillah semua prosesi pemakaman berjalan lancar. Banyak sekali orang yang melayat, rnenyolatkan di masjid, hingga mengantar ke kuburan.
Hingga detik ini aku tidak pernah berhenti mengenangmu, Cinta. Mengenang perjalanan singkat kebahagiaan kita. Memang kehidupan kita sederhana dan tidak melimpah dengan harta. Tetapi nyaris tak pernah terjadi perselisihan di antara kita. Sebaliknya begitu banyak hari di mana kau dan aku mensyukuri kebersamaan kita, juga karunia Allah berupa dua putri yang membanggakan.
Tetapi takdir berkata lain, dan aku harus menerima. Meski terkadang aku masih merasa hampa. Terlebih bulan-bulan pertama kepergianmu. Begitu beratnya hingga aku tak yakin bisa melalui ujian ini. Tanpamu, setiap hari aku berjalan bagai tak menapak, limbung dan kehilangan arah.
Aku nyaris tak bisa makan. Kalaupun akhirnya menyuapkan nasi ke mulut, tak lebih memenuhi kebutuhan fisik semata. Setiap malam tiba, mataku sulit dipicingkan.
Terkadang aku membayangkan sosokmu, namun dengan cepat angan ini hempas ketika melihat ruang kosong di sisi tempat tidur yang dulu terisi olehmu.
Allah, kusebut namanya berulang-ulang. Jika saja tak ada iman, Cinta, aku nyaris tak kuasa melanjutkan hidup tanpamu.
(Tak sabar kutunggu pertemuan itu, semoga Aliah mempertemukan cinta kita nanti, ketika maut menjemputku...)

Enam lembar surat curahan hati dari mbak Yayu, ibunda Hana, teman sepermainan Adam, putra kedua saya, sampai ke tangan saya beberapa hari setelah kepergian suaminya.
Enam lembar yang ditulis dengan sepenuh hati dan memberikan gambaran detik-detik sakaratul maut sang suami, dan beratnya kehidupan setelah itu. Ketika berlembar-lembar tulisan yang diketik rapi itu sampai ke tangan saya, ide menyusun buku ini bahkan belum lagi muncul.
Saya menerima sambil mencatat dalam hati, suatu hari saya akan menulis ulang catatan hati mbak Yayu. Pada kenyataannya saya hanya mampu mengubah penyajian tulisan, sementara sebagian besar kata-kata mengalir persis seperti mbak Yayu mencatatnya. Sengaja saya tidak ingin mengubah kenangan mbak Yayu terhadap almarhum suami, saya ingin mbak Yayu melihat catatan hatinya secara utuh.
Terima kasih saya karena mbak Yayu berkenan menuliskannya untuk saya. Hal yang amat saya sarankan kepada perempuan-perempuan Indonesia. Menulis agar kita memiliki sesuatu untuk dikenang. Menulis apa saja tentang hari-hari yang kita lalui sebagai istri dan ibu.
Apakah anda akan membaginya dengan orang yang bisa anda percaya, atau tidak... tidak jadi soal. Paling tidak dengan menuliskannya bisa menjadi terapi tersendiri, saat hati terbebani ribuan masalah dan kesedihan.
* * *
(Yayu Purwaningsih dan Asma Nadia)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar