Rabu, 13 Mei 2015

Catatan Hati Seorang Istri Bagian 6


Karya : Asma Nadia

“Lagi, Pertanyaan Untuk Lelaki”

Bagaimana lelaki bisa begitu mudah meniduri perempuan yang tidak dikenalnya?
Pertanyaan ini meloncat-loncat di benak saya, ketika suatu malam bersama seorang teman mengunjungi sebuah lokalisasi pelacuran di bilangan Tanah Abang.
Negosiasi yang tidak mudah antara si teman dengan 'Papi' yang mengelola pelacuran tersebut. Permohonan saya untuk bisa melihat komplek pelacuran dari dekat rupanya diterima dengan curiga oleh Papi.
“Dia polisi, ya?”
Teman saya menggeleng dan mencoba meyakinkan bahwa saya hanya seorang penulis yang ingin observasi dari dekat, terkait buku yang sedang saya tulis.
“Wartawan?” kejar salah seorang dari sekian banyak penguasa di komplek pelacuran murahan itu lagi.
Teman saya kembali menggeleng. “Cuma penulis.”
Meski begitu tetap saja si 'Papi' tampak ragu sebelum akhirnya memberikan izin. Meski sudah di-bolehkan, laki-laki itu kembali khawatir ketika mengetahui bahwa saya berjilbab.
“Wah, apa kata para pelanggan sini?” cetus si Papi cemas, “Apa nggak bisa dia nyamar kali ini dan buka jilbab dulu?”
Teman saya mencoba meyakinkan, bahwa saya tidak akan menimbulkan masalah bagi bisnisnya di malam saya datang nanti.
Akhirnya dengan berat hati laki-laki gemuk itu pun mengizinkan.
Jadilah saya melakukan 'perjalanan' malam. Dan karena ini hal baru, saya benar-benar terbilang norak. Teman yang menyertai beberapa kali harus mengingatkan agar saya tidak memandang lekat, atau memelototi 'pasangan-pasangan' yang mojok di sisi-sisi yang temaram.
Ada yang mengobrol berdekatan sambil berdiri. Ada yang pangku-pangkuan. Ada tangan-tangan yang 'gerilya' ditingkahi tawa geli di tengah suara musik yang hingar bingar.
Tempat lokalisasi yang melewati rel kereta api, bermula dari sebuah gang kecil yang kumuh dan berakhir di sebuah jalan raya yang dipenuhi oleh gudang-gudang penyimpanan barang ekspedisi.
Kawasan ini relatif tidak jauh berbeda di siang hari. Namun ketika malam merangkak, kursi-kursi panjang diletakkan melintangi jalur kereta api, setelah kereta api terakhir berlalu. Di atasnya terdapat banyak sekali botol minuman keras dan gelas-gelas berukuran tinggi. Lapak-lapak judi koprok dan berbagai jenis rolet dengan hadiah uang atau beberapa bungkus rokok, dalam hitungan menit sudah terhampar serta dikerumuni 'penggemarnya'.
Dengan cepat beberapa lelaki sudah asyik ngobrol dengan perempuan-perempuan yang rata-rata muda usia dan meramaikan kursi kayu panjang yang disediakan. Sepanjang itu pula perempuan-perempuan muda berdiri, tersenyum, tertawa dan berusaha menggaet perhatian. Daya tarik mereka segera mendatangkan hasil. Kaum lelaki berbagai usia, bermacam suku dalam sekejap mengerubung seperti laron yang terpikat lampu neon.
Mereka yang ingin tempat nongkrong lebih tertutup bisa masuk ke dalam kedai-kedai minum dan memulai kencan di sana sebelum kemudian berlanjut ke kamar-kamar sempit berukuran 1,5 x 2 meter, setelah harga disepakati.
Uniknya lagi, keramaian di lokalisasi itu tidak berhenti, meski bulan Ramadhan datang.
“Tapi biasanya hanya malam, mbak... siangnya kan puasa.” Tutur seorang pelacur yang saya ajak bicara.
Selama obrolan, saya menekan kuat-kuat perasaan mual yang tiba-tiba melanda. Membayangkan begitu banyak lelaki yang menjadi pelanggan. Apa yang mereka lakukan di sana sungguh membuat saya ingin muntah. Mual dan ketidakmengertian yang panjang.
Bagaimana lelaki bisa mudah berhubungan intim dengan perempuan yang tidak dia kenal? Saya tahu, kalimat itu bisa saja dibalikkan, “Apa bedanya dengan para pelacur yang melakukan itu dengan lelaki asing?” Saya juga tahu, tidak bisa membela diri dengan: Mereka terpaksa melakukannya, dengan alasan yang kuat. Mereka ...bekerja.
Maafkan saya yang tanpa bermaksud menyoal perbedaan perempuan dan laki-laki, tetap saja melemparkan keheranan ini. Bagaimana lelaki bisa tergoda ke arah sana begitu mudah?
Dalam situasi normal, saya kira akan sulit bagi perempuan untuk membangunkan hasrat mereka hingga mampu melakukan hubungan fisik seperti itu dengan lawan jenis, tanpa cinta.
Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa dengan cinta hal itu menjadi benar untuk dilakukan. Tidak. Hubungan yang halal tidak cukup hanya dilandasi cinta, melainkan juga harus berada dalam atap pernikahan. Saya hanya mempertanyakan pembelaan para lelaki yang ketahuan tidur dengan perempuan lain, seperti ini:
- Ini hanya sebuah kekeliruan kecil yang manusiawi...
- Terjadi begitu saja, tanpa saya sadari!
- Hubungan itu hanya sekali dan tidak berarti apa-apa, sayang!
- Cobalah mengerti. Ini cuma seks, bukan cinta!
Bahkan seorang teman menceritakan komentar suaminya, ketika mereka berandai-andai jika suami tidur dengan perempuan lain, “Apa salahnya? Jika suami diibaratkan teko... isinya boleh saja tumpah ke mana-mana, yang penting kan tekonya balik ke rumah!”
Laki-laki.
Tetap saja saya tidak mengerti.
31 Desember 2003

Saat Cinta Berpaling Darimu

“Suami adalah tipe lelaki serius, pendiam dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama “ Spongebob “ di listnya?”
Saya tidak ingin cemburu
Selama menikah, saya pikir tidak ada kamus cemburu dalam rumah tangga kami. Seperti keluarga lain yang berusaha menerapkan kehidupan religius da lam keseharian, kami percaya prinsip saling jujur dan percaya merupakan hal yang harus ada.
Apakah suami saya tidak tampan?
Tentu saja bukan karena itu. Meskipun saya memilihnya bukan karena wajah atau penampilan luar, saya mengakui betapa menariknya suami. Ini terbukti dari banyak gadis di kampusnya dulu yang jatuh hati, bahkan terang-terangan mengatakan itu ketika walirnahan. Di hadapan kami, dua orang gadis mengatakan sempat naksir kepada suami saya, semasa di kampus.
Saya yang mendengarkan kalimat yang disampaikan serius meski dengan nada bergurau itu hanya tersenyum. Usia saya masih terbilang muda, hanya dua puluh dua tahun, tetapi tidak sedikitpun rasa cemburu menyelinap.
Apakah saya terlalu percaya diri? Saya kira tidak. Sebaliknya saya cukup tahu diri dengan wajah yang paspasan.
Entahlah, tapi saya yakin suami mencintai saya apa adanya. Dan caranya mengungkapkan itu selama ini jelas memiliki andil besar dalam ketenangan saya.
Sebelum menikah saya tidak pernah berpacaran, memang sempat dekat dengan satu dua lawan jenis, tapi hubungan kami lebih seperti sahabat ketimbang pacar.
Sekalipun ketika itu saya belum berjilbab, tetapi kesadaran menjaga diri saya memang cukup tinggi. Saya tidak mau berduaan di tempat sepi, bahkan ketika dibonceng motor pun, tangan saya bertahan hanya memegang bawah jok motor, dan tidak pernah melingkar manis di pinggang teman pria.
Otomatis ketika menikah, maka suami menjadi lelaki pertama di luar keluarga yang memiliki kontak fisik. Dan saya percaya, hal inilah yang dengan cepat membangun cinta yang sebelumnya tidak ada di antara saya dan suami.
Maklum kami menikah tidak melalui proses pacaran. Apalagi suami benar-benar memperlakukan saya seperti ratu. Tidak jarang dia memberi surprise dengan menyiapkan sarapan pagi ketika dia bangun lebih awal, dan kejutan-kejutan manis lainnya.
Dia adalah sosok suami dan ayah yang baik. Tipe family man yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selepas pulang kerja dan tidak pernah keluyuran.
Begitulah, hingga anak keempat lahir, tidak ada cemburu diantara kami. Rumah tangga tetap ten-tram. Demi komitmen kepada keluarga, sejak anak pertama lahir, saya memutuskan bekerja di rumah. Perkerjaan saya sebagai illustrator buku anak cukup memungkinkan untuk itu.
Semua terasa sempurna. Saya kira itu jugalah yang ada di gambaran orang luar tentang keluarga kami. Bahkan kerap saya atau suami menjadi tempat curhat keluarga lain.
Beberapa istri yang dihantui oleh kecemburuan karena suami mereka yang sewaktu menikah cukup baik keislamannya, tetapi sekarang mulai tampak 'genit' selalu saya nasehati untuk tetap berpikir positif dan tidak berburuk sangka terhadap suami. “Barangkali pekerjaan suamimu menuntut itu.”
“Lingkungan pergaulannya memang kalangan Professional, saya kira dia hanya berusaha tampil lebih luwes di kalangan umum.”
Saran lain yang kerap lahir dari lisan saya, “Nikmati saja...kan bagus suami merawat diri. Istri-istri lain banyak lho yang ngeluh karena suami mereka sama sekali tidak memedulikan penampilan ketika keluar rumah.”
Dan saya bahagia jika para istri yang cemburu dan khawatir suami mereka diam-diam sudah menikah lagi, kemudian bisa mengusap air mata dan pulang dengan lebih tenang.

Karir yang melesat

Seiring waktu, karir suami melesat jauh lebih baik dari yang bisa kami harapkan. Ketika menikah, penghasilan suami hanya dua atau tiga ratus ribu rupiah perbulan, dari pekerjaannya di bidang edu-taintment. Tetapi sekarang meningkat berpuluh lipat, seiring bertambahnya anak kami.
Beberapa teman sesama muslimah sempat menggoda penampilan suami yang menurut mereka makin modis. Ada juga yang membisiki saya dengan kalimat serius, “Hati-hati puber kedua suami lho, dik...”
Seperti biasa saya hanya tertawa. Tentu saja mata saya tidak luput terhadap perubahan penampilan suami. Tetapi kepercayaan terhadap lelaki itu tidak pernah berkurang sedikit pun. Sebab kecuali penampilan, tidak ada yang berubah. Perhatiannya terhadap saya dan anak-anak tidak berubah. Kejut an-kejutan manisnya masih ada. Kami masih sering jalan dan makan malam berdua seperti layaknya pengantin baru.
Bicara soal ibadah?
Alhamdulillah suami masih menjaga ibadahnya seperti ketika dia masih aktifis rohis di kampus. Shalatnya masih tepat waktu. Tidak hanya itu, kebiasaan shalat malamnya tidak hilang. Pun puasa Senin Kamis. Jadi apa yang harus saya khawatirkan? Setiap hari lelaki itu tetap pulang tepat waktu. Memang ada beberapa kali dalam sebulan, agenda keluar kota, biasanya ke Bogor, tetapi semua murni terkait pekerjaan.
Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk cemburu hanya karena dia sekarang lebih rapi, memilih baju dan sepatu yang bermerek, atau rutin menyemprot parfum sebelum keluar rumah.
Saya tidak ingin hati mengambil alih logika. Apalagi sejauh ini perasaan saya masih tentram dan sama sekali tidak ada kecurigaan apa-apa. Sekalipun suami memegang dua handphone kemana-ma na, saya merasa tidak perlu mencurigai apalagi terdorong untuk mengecek siapa saja yang diteleponnya seharian itu, atau mencuri-curi membaca deretan SMS yang diterimanya.
Hanya istri-istri yang tidak percaya pada kekuatan hubungan dengan pasangannyalah yang melakukan hal demikian, pikir saya.
Berita suami si A selingkuh. Atau suami si B dan C berpoligami,tidak juga membuat saya menjadi istri yang paranoid. Cemburu bagi saya hanya menyesakkan hati.
Sementara dengan hati suram, bagaimana saya bisa maksimal merawat anak-anak dan suami? Belum lagi mengerjakan order-order ilustrasi yang sering datang tibatiba?
Bisa-bisa gara-gara istri yang cemburuan suami menjadi pusing dan jenuh berada di rumah. Dan saya menjaga betul, agar suami senantiasa nyaman dan merasa teduh sepulang dari kantor.

Perempuan misterius
Alhamdulillah logika saya sejauh ini selalu menang.
Konon diantara muslimah semasa di kampus, saya termasuk yang porsi logikanya sering disamakan dengan lelaki. Ketika muslimah lain menangis, ngarnbek dan marah-marah, saya masih bisa berpikir rasional dan melihat masalah dengan jernih. Suami tahu itu dan kerap memberi pujian.
Suatu hari ponsel suami yang CDMA tertinggal. Kebetulan saya baru saja ganti handset karena handphone hilang sehari sebelumnya. Karena memerlukan beberapa kontak, tanpa ragu saya pun meraih handphone suami. Sebab biasanya suami juga menyimpan beberapa nomor kontak saya.
Awalnya saya tidak terusik untuk membuka inbox SMS suami. Hanya menelusuri deret huruf kontak yang saya perlukan. Hingga kemudian saya menatap satu nama yang menurut saya ganjil berada di sana.
Suami adalah tipe lelaki serius, pendiam dan sangat dewasa. Lalu bagaimana ada kontak bernama “Spongebob” di listnya?
Ada sesuatu yang tiba-tiba berdetak di hati, namun saya lawan sebisanya. Pastilah ini hanya gurauan. Bisa jadi ketika saya buka, nomor tersebut merupakan nomor handphone adik perempuan, sepupu atau keponakan atau bisa jadi teman kantor. Saya bayangkan suami akan terpingkal-pingkal ketika saya ceritakan hal ini.
Saya ingat sempat termenung beberapa lama sebelum membuka kotak SMS. Bagi saya HP dan agenda adalah hal yang private dan saya sangat menghormati privacy suami.
Tapi entah ada apa hari itu, firasat seorang istrikah yang akhirnya membuat saya bereaksi berbeda?
Untuk pertama kalinya logika saya kalah. Saya akhirnya tergoda untuk menggerakkan jari memencet keyphone untuk membuka baris SMS yang masuk. Debaran di hati saya bertambah kencang ketika saya menemukan empat SMS dari si 'Sponge bob'.
Saya membaca basmallah dan berdoa sebelum akhirnya memutuskan membaca SMS misterius tersebut. SMS pertama dan kedua hanyalah kalimat resmi tentang janji temu.
Tetapi menginjak SMS ketiga, saya kaget menemukan kalimat-kalimat mesra di dalamnya. Tetapi bukankah siapa saja bisa berkata mesra? Bukankah yang lebih penting adalah bagaimana sikap suami terhadap yang bersangkutan dan bukan sebaliknya?
Nalar saya bicara. Saya tutup kotak pesan masuk, dan mencoba menelusuri box sent item. Kepala saya mulai berdenyut. Jari-jari saya gemetar saat menemukan empat SMS dari suami sebagai balasan terhadap SMS si 'Spongebob'
SMS pertama biasa saja. Tetapi SMS kedua?
Hari ini menemani anak-anak karate. Sayang sedang apa? Jangan terlambat makan, ya?
Saya periksa tanggal SMS tersebut dikirimkan. Ahad lalu, hari yang sama ketika suami menemani ketiga anak kami latihan karate. Sementara saya seharian di rumah menemani si bungsu yang sedang sakit.
Ketika membaca SMS-SMS balasan berikutnya, perasaan saya semakin diremas-remas. Kedua kaki saya seakan lumpuh dan tidak bertenaga. Sementara kepala sontak berdenyut-denyut. Ahh, bagaimana mungkin?
Suami saya lelaki yang taat beribadah. Al Ma' tsuratnya tak pernah tertinggal setiap shalat subuh. Dia mungkin lelaki terakhir yang akan saya curigai untuk berselingkuh.
Mungkinkah semua ini hanya guyonan?
Tidak, dia tipe pemikir dan amat menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Saya tidak bisa menemukan alasan suami memanggil perempuan lain dengan sebutan 'sayang'!
Kemesraan di dalam SMS-SMS berikutnya yang dikirim suami, semakin mengukuhkan jalinan cinta keduanya.
Betapa pun saya berusaha berprasangka baik, sia-sia bagi saya menemukan sudut pandang yang mungkin bisa membantah kecemasan saya.
Sesorean itu saya perpanjang shalat ashar dan menenangkan diri dalam tilawah. Saya menangis. Lima belas tahun pernikahan, belum pernah sekalipun suami membuat saya menangis. Tapi hari itu saya benar-benar terisak.
Ketika suami pulang, saya mencoba menahan diri dan melayaninya seperti biasa. Tetapi tangis yang saya tahan akhirnya tumpah juga ketika kami sudah berada di tempat tidur dan siap beristirahat. Dengan lembut seperti biasa suami menanyakan apa yang membuat saya begitu sedih.
Saya tidak menjawab. Saya raih handphone, membuka sent item dan saya sodorkan SMS yang diketik suami untuk si 'Spongebob'.
Sikap saya berubah dingin. Saya perhatikan raut wajah suami berubah, tidak lama kemudian dia te risak-isak dan merengkuh saya.
“Aa minta maaf. Aa khilaf...” Ada air mata yang kini juga jatuh di pipi suami. Dia pandangi saya, dia usap-usap wajah saya seraya mengulang-ulang permintaan maafnya.
“Tapi belum jauh, dik. Tidak ada yang terjadi.”
Berawal di dunia maya, kedekatan mereka terjalin.
“Usianya tiga puluh tahun, belum menikah... dia tinggal di Bogor.”
Gadis itu sering curhat kepada suami soal apa saja.
“Sudah berapa lama, Aa?” Suami saya diam. Matanya tampak ragu. “Saya ingin Aa jujur...Tidak apa.”
Lelaki itu terdiam, menghela napas. “Tiga tahun, dik.”
Saya tercenung mendengar pengakuannya. Tiga tahun...begitu lama. Bagaimana mata saya bisa dibutakan selama itu? Di sisi saya, suami terisak.
Pembaca, setelah dialog malam itu, sulit bagi saya membangun kepercayaan kepada suami. Saya terus menerus memikirkan angka 3 tahun itu, imajinasi saya berputar-putar. Tiga tahun waktu yang lama, apa saja yang sudah terjadi di antara mereka? Hancur hati saya membayangkannya.
Sementara ini saya mengungsi di rumah Ibu. Sudah enam bulan sejak pengkhianatan mereka saya ketahui (keduanya belum menikah). Saya hanya berharap waktu bisa memberi saya kejernihan hati, untuk melakukan hal yang benar.
(Berdasarkan kisah Mbak Safitri)

Saat Cinta Berpaling Darimu

“Dia tak mengira kalau kecantikan lugu itu akan memorak-morandakan rumah tangga mereka.”
Apakah dia merasa putus asa ketika mengetahui bahwa gaji suaminya yang masih kuliah itu hanya 200 ribu sebulan?
Apakah dia putus asa ketika mereka harus ber pindahpindah kontrakan dari satu rumah mungil ke rumah mungil yang lain?
Apakah perempuan itu mengeluh, ketika berbu lan-bulan hanya makan tempe dan sayur, yang ma sing-masing dibeli seribu rupiah di warung, ketika sang suami tak bekerja cukup lama?
Jawabannya tidak.
Perempuan berwajah manis,yang saya kenal itu sebaliknya selalu terlihat cerah, seolah permasalahan ekonomi yang menerpa keluarga kecil mereka, tak berarti apa-apa. Pun ketika kesulitan hidup terus berlanjut. Menjelang kelahiran anak pertama mereka, suami masih belum memiliki pekerjaan yang mapan. Tapi perempuan itu tidak putus asa.Sedikitpun tidak menyesal telah menikah dengan lelaki pilihannya. Lelaki yang dia cintai karena kecerdasan dan kegigihannya. Lelaki yang amat dia hormati, yang dia tahu selalu berupaya sungguh-sungguh untuk membahagiakan, keluarga mereka.
Dan kenyataan bahwa mereka tinggal di rumah kontrakan yang nyaris mau runtuh, dengan kamar mandi jelek, dan serangga di mana-mana yang kerap menimbulkan ruam merah pada kulitnya yang putih, tidak membuatnya mengeluh. Tidak juga ketika satu-satu perhiasan dari orang tuanya, ludes terjual untuk keperluan rumah tangga.
Lalu anak pertama lahir. Gagah, dengan alis tebal nyaris bertaut. Dia dan suami menerima kehadiran pangeran kecil itu dengan hati berbunga. Meski mereka harus berhutang ke sana ke mari agar biaya kelahiran bisa dilunasi. Sekali lagi, perempuan itu tidak pernah mengeluh. Hidup baginya adalah rentetan ucapan syukur kepada yang kuasa, dari waktu ke waktu. Ketika anak kedua mereka lahir, roda ekonomi keluarga telah jauh lebih baik. Laki-laki yang dicintainya mendapatkan pekerjaan yang mapan. Mereka tak lagi bingung memikirkan kebutuhan sehari-hari, makan, maupun susu buat anak-anak.
Perempuan yang saya kenal sejak lama itu, membantu suaminya dengan bekerja paruh waktu bagi sebuah taman bermain anak-anak yang cukup prestise. Seiring kehidupan yang mulai membaik, perempuan itu tak lagi mengerjakan semua sendiri. Apalagi setelah anak ketiga mereka lahir.
Sang suami memintanya lebih konsen kepada pekerjaan paruh waktu yang digeluti istrinya. Tahun ke lima pernikahan mereka mulai menyewa baby sitter, ketika itu si bungsu belum lagi berusia sepuluh bulan.
Lalu datanglah anugerah bagi sang istri. Lembaga tempat dia bekerja paruh waktu, menawarkan program training ke luar negeri. Awalnya sang istri ragu, sebab dia khawatir meninggalkan anak-anak selama beberapa pekan. Tetapi lelaki yang dicintainya memberikan support dan mendorongnya untuk pergi, “Ini pengalaman bagus buat Mama,” kata lelaki itu.
Dan ketika dia ingin membantah, lelaki itu menggelengkan kepalanya, “Perempuan lain ingin mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Mama harus pergi. Gak apa. Ada mbak yang menjaga anak-anak.”
Dengan setengah hati perempuan berwajah manis itu meninggalkan keluarganya. Masa-masa berjauhan dilaluinya dengan rindu yang menyiksa, dan perasan berat karena selalu terbayang anak-anak.
Naluri keibuannya rupanya tidak bisa dibohongi. Meskipun sang suami selalu berkata semua baik-baik saja, perempuan itu merasakan ada sesuatu yang terjadi. Dan perasaannya benar.
Anak ketiga mereka dirawat di rumah sakit karena demam berdarah! Suami yang takut membuatnya panik, baru menjelaskan ketika istrinya pulang ke tanah air.
“Maafkan Papa, takut Mama bingung.”
Perempuan itu menangis. Syukurlah kondisi putri mereka membaik. Tapi ada hal lain yang terjadi. Hal yang tak pernah diduganya, hal yang membuat jantungnya luruh.
Suaminya jatuh cinta.
Perempuan itu sungguh tak percaya, ketika mendengarkan ibu mertuanya menangis tersedu-sedu menjelaskan apa yang terjadi.
Dunia bahagia yang selama ini dibangunnya seakan runtuh. Apalagi ketika mengetahu gadis cantik yang membuat suaminya jatuh hati, adalah baby sitter yang mereka sewa.
Kami hanya berpegangan tangan. Tak lebih. Elak suaminya.
Tapi hati perempuan itu telanjur hancur. Harapan-harapan yang dibangunnya seakan menguap. Suaminya berpaling. Lelaki yang telah membuatnya merasa seperti seorang putri, jatuh cinta lagi.
Allah... apa maksudMu dengan ini semua? Batin sang istri yang terkoyak.
Dengan hati hempas, dia memanggil baby sitter mereka. Baru kali ini si perempuan memandang lekat-lekat gadis berusia sembilan belas tahun itu. Meskipun dari desa, wajahnya memang cantik dan ayu. Kulitnya bersih, rambutnya yang panjang tampak begitu mengilat. Dulu dia tak mengira kalau kecantikan lugu itu akan memorak-morandakan rumah tangga mereka.
Perempuan itu duduk berhadapan dengan baby sitter yang tertunduk salah tingkah.
“Sudah sejauh apa?'
Baby sitter itu mengelak. Tak mau berbicara lebih jauh.
“Apakah kamu menyukai Bapak?”
Baby sitter itu diam. Ragu. Lalu kepalanya pelan menggeleng.
“Saya tak keberatan jika Bapak menyukaimu, dan kamu menyukai Bapak,”
Saya kaget. Saya berada di sana, menemani perempuan yang telah lama menjadi sahabat saya. Tetap saja kalimat terakhirnya mengejutkan.
Si baby sitter cantik menggeleng. Lagi-lagi salah tingkah.
Saat itu suami si perempuan sedang berada di kantor, sehingga mereka leluasa berbicara. Tidak jauh dari mereka, mertua sahabat saya tampak menangis sesenggukan. Sebaliknya wajah sahabat saya tampak sangat tegar.
Ketegaran itu baru runtuh ketika kami hanya berdua. Sahabat saya menangis. Betul-betul menangis.
“Saya sedih,” bisiknya, “salahkah?”
Saya menggeleng. Kesedihan adalah teman manusia. Tak apa.
“Ibu tadi cerita, bahkan ketika Andin sakit, papanya memilih menemani perempuan itu berobat, meski hanya flu biasa, dan meninggalkan Andin diperiksa hanya ditemani ibu.”
Ah, lelaki. Begitu mudahkah larut dalam pesona?
Saya kehilangan kata-kata. Percuma mengibur, apalagi berlagak mengerti perasaannya. Saya tak ingin berbasa-basi yang tidak perlu.
Kehidupan berlanjut. Suami perempuan itu mengakui kesalahannya, dan berjanji tidak akan mengulangi. Lelaki itu memohon-mohon agar sang istri mau memaafkannya.
“Bisakah?” tanya saya suatu hari. Ketika itu tahun-tahun sudah berlalu begitu banyak.
“Saya tidak tahu,” jawab sahabat saya.
Selalu dan selalu, matanya yang cerah meredup setiap teringat kisah itu. Barangkali memang ada beberapa luka yang tak bisa sembuh, bahkan oleh waktu.
Enam bulan setelah kejadian itu, sahabat saya bercerita perasaannya setiap kali suaminya mendekati.
“Saya merasa jijik,” ujarnya dengan wajah bersalah.
“Tak apa, semua perlu waktu. Lagi pula yang terjadi tidak sejauh itu. Jangan menyiksa pikiran.”
“Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Saya diam. Perempuan manis itu benar. Hanya suaminya dan si baby sitter yang tahu segala. Mereka terkadang pergi ke luar rumah berdua. Dulu terasa biasa saja, toh mereka hanya ke warung, atau apotik. Entahlah.
Ketika saya meminta izin menuliskan cerita ini, sahabat saya mengiyakan, meski dia masih belum lagi sembuh dari kesedihan. Memang tidak ada perceraian. Sang suami tampak bersungguh-sungguh menjaga keutuhan keluarga mereka. Apalagi ada anak-anak diantara keduanya.
“Dia bapak yang baik!” papar sahabat saya suatu hari.
Kehidupan memang terus berjalan. Satu peristiwa, satu hati yang berdarah. Satu hati yang belum juga sembuh.
“Kami masih tidak bisa bersama,” jelasnya. Saya mengerti. Peristiwa itu seolah membekukan semua kehangatan dan keceriaannya sebagai seorang istri. Sang suami tak memaksa. Menjalani saja kehidupan apa adanya.
Anak-anak lebih penting.
Entah sampai kapan mereka bisa bertahan, saya tidak tahu. Tak juga mau menduga-duga. Saya senang akhirnya sahabat saya bisa mendapatkan kepercayaan diri yang sempat hancur ketika menyadari sosok perempuan yang telah merebut hati suaminya, tak hanya lebih cantik tapi juga jauh lebih muda. Perlahan dia mencoba melupakan yang terjadi. Padahal dunia sempat terasa berhenti baginya.
“Sampai saya sadar, Asma. Di luar sana, banyak pengalaman yang jauh lebih buruk, menimpa istri-istri lain. Apa yang terjadi pada saya, barangkali tak seujung kuku yang dialami perempuan-perempuan lain.”
Hubungan normal layaknya suami istri memang sudah patah, akan sulit merekatkannya kembali. Tapi saya mengagumi semangatnya mempertahankan pernikahan, dan tetap menjalaninya penuh syukur. Perempuan itu bahkan pasrah jika karena ketidak-mampuannya sekarang, dikarenakan ulah sang suami, mungkin justru mengakibatkan sang suami menikah di belakangnya.
“Dulu hal itu perkara besar buat saya, tapi sekarang...” sahabat saya itu tertawa.
Sebenarnya banyak yang ingin saya tanyakan padanya. Apakah dia bahagia? Apakah suaminya bahagia? Kenapa tidak bercerai dan sama-sama memulai yang baru Sebagian orang mungkin akan berpikir begitu. Hidup terlalu singkat untuk larut dalam ketidakbahagiaan.
Betapapun saya menghormati komitmen keduanya. Juga perkataannya yang akan selalu saya ingat, “Ada hati-hati kecil yang harus dijaga, Asma. Setiap mengingat mereka, maka luka-luka lain menjadi kalah penting. Kebahagiaan saya sempat runtuh, tapi kebahagiaan ketiga anak saya, tidak. Dan saya harus bisa menjaganya. Sekuat saya.”

1 komentar:

  1. Cerita perselingkuhan lg?
    Seakan tak ada habisnya.
    Tp itu jg pernah q alami...

    BalasHapus