Minggu, 28 Juni 2015

TempatKu di Sisi Mu Episode 34 & 35 – By Gola Gong

~Episode 34~

Genggam hati ini, ya Rabbi
Ringankan beban ini
biar kulapang menemui-Mu
Menyambut sekuntum senyum
Mengakhiri waktu:
beri aku tempat di sisi-Mu!

Jalal membimbing Jodha masuk ke dalam kamar. Jodha duduk di kursi rias. Dia mencoba mengumpulkan tenaganya. Jalal menatapnya. Tiba-tiba dia merasa bersalah. Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Mutiara.

“Badan ini rasanya lemes sekali ...,” nada Jodha sangat cemas.

“Besok kita periksa ke dokter spesialis.”

“Iya…”

“Maafkan saya, Jodha ...,” Jalal duduk di sisi tempat tidur.

“Maaf? Soal apa?” Jodha menatapnya.

“Mutiara…...”

“Mutiara? Kenapa dia? Kamu nggak salah apa-apa, kok,” Jodha membuka jilbabnya. Dia duduk sambil bercermin, membersihkan riasan di wajahnya.

“Itu, kan masa lalu kamu.”

“Aku pikir, nggak ada gunanya menceritakan masa laluku sama kamu.”

“Iya, nggak ada gunanya.”

“Dunia ternyata kecil. Dia muncul begitu saja seperti angin.”

“Ya, dia muncul begitu saja.”

“Aku heran, kenapa dia ke sini….”

“Kelihatannya dia belum menikah.”

“Aku nggak tahu.”

“Atau ..., dia menunggu Kak Jalal.”

“Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa sama dia.”

“Kelihatannya dia masih mencintai Kak Jalal.”

“Aku tidak bisa mencegah seseorang untuk mencintai aku atau tidak, Jodha. Iya, kan?”

“Kenapa Kak Jalal nggak pernah cerita tentang Mutiara sama aku?” Jodha menatapnya lagi. Tetapi, wajahnya tetap dengan senyuman.

“Karena kamu tidak pernah menanyakannya. Menanyakan tujuh tahun saat kita berpisah. Saat aku menjadi wartawan di Jakarta.”

“Ya, aku tidak pernah menanyakan masa lalu sama kamu. Karena itu nggak akan ada gunanya.”

“Seharusnya aku yang bercerita. Toh, itu tidak akan mengubah apa-apa.”

“Kak Jalal takut aku cemburu, barangkali?”

“Mungkin saja.”

“Sekarang, bagaimana?”

“Bagaimana, apanya?”

“Dia masih sendiri, Kak Jalal.”

“Itu tidak ada hubungannya denganku!”

Jodha bangkit dan berjalan ke tempat tidur. Tetapi, tiba-tiba dia membungkuk, menahan nyeri di hatinya. Jalal buru-buru bangkit dan memapah istrinya ke tempat tidur. Membaringkannya.

“Sebaiknya besok kita periksa sekalian nengok Tuan Marabunta.”

Jodha menggeleng, “Nggak, nggak apa-apa. Kok….”

“Nggak apa-apa. gimana?” Jalal menyelimuti tubuh istrinya dengan cemas. “Bulan depan kita mau naik haji. Kamu harus sehat!” Lalu dia menyentuh kening istrinya. “Astaghfirullah! Suhu badan kamu panas sekali!”

Akhirnya Jodha mengangguk. “Iya. Besok periksa ke dokter.” katanya pasrah.

Jalal tampak masih cemas. Dia memegangi tangan istrinya. “Iya, kamu panas. Kenapa. kamu?”

“Mungkin mau flu.”

“Sebaiknya kamu minum obat penurun panas!”

Jalal hendak ke luar kamar.

“Kak Jalal. Aku ini dokter. Nggak apa-apa. Jangan panik.”

Jalal berhenti. Dia menatap Jodha.

“Sini, jangan ke mana-mana,” panggilnya.

Jalal kembali ke tempat tidur. Dia berbaring di sisi Jodha.

“Kembali ke soal Mutiara,” Jodha memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang.

“Kenapa dengan Mutiara?” Jalal merasa kurang nyaman.

“Aku wanita. Ada sesuatu yang dia tunggu dari Kak Jalal. Penjelasan.”

“Penjelasan apa?” Jalal merasa heran dengan perangai istrinya kali ini.

“Pergilah. Temui dia. Katakan pada dia beberapa kalimat saja.”

“Kalimat apa?” Jalal bangkit dan duduk. Dia menatap Jodha.

Jodha ter.senyum. Dia masih berbaring. Matanya menerawang. ke langitlangit kamar. “Yah ..., katakan apa sajalah. Misalnya, tentang kita. Tentang anak-anak kita.”

“Aku nggak mengerti. Apa mau kamu?”

“Aku percaya sama Kak Jalal. Aku tahu, Kak Jalal tidak akan mengkhianati aku.”

“Aku mencintai kamu. Sejak dulu. Dia hanya mampir dalam kehidupanku sesaat.”

“Ingat-ingatlah, barangkali Kak Jalal pernah menjanjikan sesuatu pada dia.”

Jalal terdiam. Dia menunduk. Wajahnya tersembunyi oleh rambutnya yang sudah panjang lagi. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Kak Jalal ...Aku tidak apa-apa, kok.”

“Kamu menyuruhku menemui dia?”

“Kenapa? Salah?”

“Itu bisa mengundang fitnah.”

“Kalau pertemuannya di dalam kamar hotel atau di suatu tempat rahasia, mungkin iya.”

“Aku betul-betul nggak mengerti. Apa yang harus aku katakan?”

“Katakan padanya bahwa Kak Jalal sudah mempunyai istri dan dua orang anak.”

“Dia sudah melihatnya tadi.”

“Dia ingin mendengarnya langsung dari mulut Kak Jalal.”

“Kenapa kamu jadi begini?”

“Firasat seorang wanita.”

“Firasat? Apa yang kamu rasakan?” Jalal menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Bahwa dia masih menunggu Kak Jalal.”

“Apa?” Jalal tidak percaya mendengar omongan istrinya. “Itu nggak mungkin! Kamu terlalu berlebihan. Siapa tahu dia sudah bersuami dan punya anak seperti kita!”

“Aku tidak melihat ada cincin kawin di tangannya.”

“Bisa saja lupa dia pakai!”

“Sekali lagi, firasat perempuan.”

Jalal termenung lagi.

“Kamu betul-betul berlebihan. Sekarang kita tidur, ya. Besok pagi kita harus ke Karawaci. Menengok Tuan Marabunta. Juga memeriksakan penyakit kamu.”

Jodha terdiam.

“Jodha!”

“Hmmm….”

“Apa rencana kita naik haji dibatalkan saja?”

“Jangan!”

“Makanya, besok kamu harus periksa.”

“Iya, iya…”

Jalal memejamkan matanya. Tetapi, pikirannya melayang-layang entah ke mana; ke Jodha, ke Mutiara, ke Nur, Faqih, Tuan Marabunta yang tergolek di rumah sakit, ke Dicky yang menderita….. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang aneh di kamarnya. Dia merasakan Jodha jadi berbeda. Ya, Allah? Pertanda apakah ini?

Jalal pun bangkit dengan hati-hati. Dia menuju kamar mandi. Mengambil wudhu. Dia shalat malam. Dia percaya apa yang dikatakan dalam QS Al Baqarah (2) : 186, bahwa Allah itu selalu dekat dengan hamba-Nya, jika dirinya berdoa, maka Allah akan mengabulkan doanya.

~Episode 35~

Tanah merah tanah basah
Tanah dingin tanah terakhir
Tempat bertemu Munkar-Nakir
Segala pertanyaan itu
menghujam deras:
beri aku tempat-Mu!

Jalal mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Jodha duduk membisu di sebelahnya. Mereka sedang menuju sebuah rumah sakit ternama di kawasan Karawaci. Mereka hendak menengok Tuan Marabunta yang sudah tergolek sakit selama 6 bulan! Mereka tidak bersuara. Pikiran mereka melayang.layang entah ke mana. Mungkin saja ke Mutiara. Atau mungkin ke masa lalu mereka dengan Dicky dan ayahnya, yang penuh dengan pertentangan!

Tetapi, ketika melewati jembatan Ciujung, mereka melihat antrean mobil tersendat-sendat dari jalan arah Jakarta. Ternyata di sana ada sebuah mobil Kijang yang ringsek! Tidak jauh dari mobil naas itu, sebuah truk gandeng melintang. Bagian depannya juga penyok.

“Innaa lillaahi ...,” Jodha yang duduk di sebelahnya bergidik.

Ada tiga mayat tergeletak di pinggir jalan. Tubuh mereka hanya ditutupi koran. Darah berceceran di sekitar mobil Kijang.

“Masya Allah!” Jalal seperti melihat bayang-bayang kematian di depannya.

Pernahkah membayangkan, jika pada suatu hari pamitan dengan doa dan senyuman pada anak-istri, tetapi di tengah perjalanan karena kecerobohan orang lain, harus mengalami nasib naas? Sudah bukan rahasia umum lagi, jika para supir truk atau bus, suka ugal-ugalan mengendarai mobilnya.

Pernah suatu kali Jalal naik bus Merak-Rambutan. Astaghfirullah! Supir bus itu menjadikan jalan tol seperti sirkuit saja. Dia dengan santainya zig-zag dalam kecepatan tinggi. Tak pernah dia memedulikan keselamatan mobilmobil lain di belakang atau di sampingnya. Jika ada mobil lain menghalangi laju di depannya, tidak segan-segan dia menyerudukkan busnya hingga berjarak hanya sejengkal saja sambil memencet klakson berkali-kali! Seolaholah berteriak: minggir, minggir! Bayangkan: sejengkal! Bagaimana coba, kalau pengemudi mobil di depannya itu kaget dan mengerem? Tubrukan pasti tak akan terhindarkan!

“Hati-hati, jangan ngebut,” Jodha juga cemas. Wajahnya pucat.

“Kamu betul nggak apa-apa?” Jalal mengambil jalur lambat.

“Terus sajalah,” Jodha memejamkan matanya.

Tubuhnya serasa disergap sesuatu yang merontokkan seluruh sendi-sendi tubuhnya.

Jalal menatap istrinya lagi. Dia merasa takut. Tiga mayat yang tergeletak tadi masih membekas di hatinya. Sebenamya Allahlah yang berwenang menghidupkan dan mematikan hamba-hamba-Nya! Tak akan ada yang mampu menolaknya jika sudah berurusan dengan ajal. Tak perlu pangkat yang tinggi, atau hanya sekadar hamba sahaya. Semua akan mati dan sama di sisi-Nya! Tetapi, jika dia harus kehilangan istrinya sekarang, dia tidak akan mampu mengatasinya! Atau jika dia yang dipilih untuk mati terlebih dahulu, dia juga tidak mau. Ya Allah, panjangkanlah umur kami! Berilah kami kesempatan untuk melihat Nur dan Faqih dewasa, sampai kami menimang anak-anak dari mereka!

Bayang-bayang kematian itu terlihat juga oleh Jalal pada Tuan Marabunta. Pengusaha kaya raya yang flamboyan sekaligus rakus, serta selalu menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuannya, kini tergolek tak berdaya. Segala macam kekuasaannya, harta yang melimpah, tukang pukulnya yang menyeramkan, pengaruhnya yang luar biasa, menjadi tak berarti lagi di depan Allah! Dengan kuasa-Nya, dia kini hanya seonggok daging tak berdaya.

Jalal berdiri mematung melihatnya. Lututnya gemetar. Hatinya seperti diiris-iris. Begitu juga Jodha, merasakan hal yang sama. Betapa trenyuh hatinya melihat orang yang dahulu sangat berkuasa, kini ibarat kayu tua yang rapuh dimakan rayap. Bagi Jodha dan Jalal, peristiwa ini bisa menjadi cermin agar tidak takabur pada sesama hamba-Nya. Tidak sombong. Tidak menghamba pada status dan kekayaan. Tidak menganggap orang lain itu lebih rendah daripada kita. Dalam keseharian pun banyak peristiwa seperti ini terjadi. Pada orang-orang yang di zaman Orde Baru begitu sangat berkuasa, kini menukik menjadi orang paling hina. Diseret-seret dari satu persidangan ke persidangan yang lain dan berakhir di penjara!

“Terima kasih, kalian mau datang,” kata Dicky gembira. Dia mendekati tempat tidur, tempat ayahnya terbaring. Dia mendekatkan bibirnya di telinga ayahnya. “Papa….,” katanya. “Jalal sama Jodha sudah datang. Mereka ada di sini….”

Tangan Tuan Marabunta yang kini kurus dan pucat, menggapai-gapai. Kepalanya bergerak ke samping. Bola matanya yang kosong, kini mulai ada gerakan-gerakan pertanda hidup.

“Mendekatlah,” pinta Dicky pada Jalal dan Jodha. Tatapan matanya sayu karena kurang tidur.

Jalal menggandeng Jodha. Mereka mendekat. Dicky meraih tangan ayahnya. “Peganglah,” dia meminta dengan sangat.

Jalal dan Jodha saling pandang. Jodha mengangguk. Lalu mereka menyatukan tangan dan menggenggam tangan Tuan Marabunta. Tiba-tiba tangan Tuan Marabunta balas menggenggam dengan kuat. Jalal dan Jodha sangat kaget. Dicky juga!

“Papa ...,” Dicky berharap dengan cemas. “Ayo, katakanlah. Mumpung mereka ada di sini ...,” katanya sambil melihat ke Jalal.

Jalal berjongkok. Jodha juga. Mereka serempak mendekatkan kepala mereka ke bibir Tuan Marabunta.

“Assalamu’alaikum, Tuan Marabunta,” kata Jodha lembut.

Semua menanti reaksinya. Tanpa diduga, mulutnya bergerak-gerak. Semua saling pandang dengan harap-harap cemas.

“Wa’alaikum salam,” terdengar suara Tuan Marabunta terpatah-patah. Parau tersekat di tenggorokan.

“Apa kabar, Tuan?” Jalal menyapa.

Mulut itu hanya menyunggingkan senyum bahagia.

“Kedatangan kalian membawa berkah. Sudah lama saya tidak mendengar suara Papa,” Dicky sangat sukacita sekali.

“Maafkan saya,” tiba-tiba mulut Tuan Marabunta bergerak-gerak lagi.

Kalimat tadi keluar dengan pelan, tetapi sangat jelas terdengar.

“Kami sekeluarga sudah memaafkan Tuan. Begitu juga kami, meminta maaf jika ada kesalahan,” Jalal menggenggam erat tangannya.

“Sebagai hamba-hamba Allah, kita harus saling memaafkan,” Jodha tersenyum bahagia.

“Bapakmu ..., kamu ..., semuanya ...,” Tuan Marabunta terbatuk. Dadanya berguncang. Dia menarik napas. Terasa berat sekali. Tetapi bibirnya terbuka lagi, “Kalian ..., tidak pernah membuat kesalahan ...padaku ...juga pada Dicky. Kamilah... yang banyak melakukan kesalahan. Kami banyak dosa pada kalian,” begitu panjang kalimat-kalimatnya.

Dicky tidak menyangka ayahnya bisa mengatakan kalimat seperti itu. Dia sangat antusias mengikutinya. Wajahnya antara tegang dan penuh sukacita. Dia tak bersuara apa-apa. Dia hanya menyaksikan peristiwa bersejarah ini dengan saksama.

Jalal dan Jodha mengangguk-angguk dan tersenyum.

“Sekarang, Tuan istirahat saja. Jangan banyak bicara dulu,” kata Jalal.

Tuan Marabunta hanya tersenyum. Wajahnya kini tampak bergairah sekali. Warna pucat berganti menjadi memerah, pertanda kehidupan mulai muncul.

Tetapi, itu hanya sekejap saja. Karena setelah itu, tak ada tanda.tanda kehidupan lagi. Wajahnya terbujur kaku. Tinggal senyumnya saja yang masih membekas.

Dicky panik. Dicky mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya. “Papa! Bangun, Papa!” teriaknya.

“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ...,” Jalal dan Jodha menundukkan kepalanya, pertanda memberi hormat pada ruh yang keluar dari jasad Tuan Marabunta.

Dari asal, kembali ke asal. Semoga Allah menerima segala amal perbuatannya. Semoga dia diterima di sisi-Nya!

~NEXT~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar