Rabu, 24 Juni 2015

TempatKu di Sisi Mu Episode 21 & 22 – By Gola Gong

~Episode 21~

Dia Maha Rahman
Dikasihi-Nya kita dalam balutan doa dan nikmat
Diciptakan-Nya dari darah dan tiupan ruh
Anak-anak masa depan
Di mana harap tertumpah
Dia Maha Rahim
Memberi segala terbaik
pada sekitar dunia:
tetapi kita lalai mengingat ciptaan-Nya!

Di ruang keluarga. Tampak perut Siti Jodha Nurkhasanah sudah membesar lagi. Hamil tua. Diperkirakan minggu ini anak keduanya akan lahir. Rupanya Jalal mewujudkan keinginannya untuk mempunyai anak kedua dalam waktu yang cepat. Umur Siti Nurkhalishah sekarang sudah dua tahun. Waktu yang tepat untuk memberikan adik bagi si sulung.

Jodha merasa bahagia dengan kehamilan keduanya ini. Dia tidak menjadikan kehamilan keduanya ini sebagai beban hidup, tetapi justru menerimanya sebagai rahmat dan amanah baru. Dia tahu, betapa banyak para istri yang sangat mendambakan jabatan sebagai ibu. Jabatan yang hanya diberikan secara gratis oleh Allah! Tanpa perlu menyuap atau main sikut sini, sikut sana. Sogokannya pada Allah hanya dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya!

“Ayo, Dede ...,” Jodha mengelus-elus perutnya, “... kapan keluar,” katanya mengajak si bayi berbicara. “Teteh sudah nggak sabar punya temen main,” dia tersenyum sendiri melihat anak pertamanya, Siti Nurkhalishah, sedang mengacak-acak isi amplop di lantai.

“Nur, suratnya jangan dirobekin. Bapak belum baca suratnya. Foto-fotonya juga jangan diguntingi... Bapak kan mau lihat juga….”

“Emang, ini foto siapa?”

“Itu foto Tante Namlok sama anaknya.”

“Namanya siapa?”

“Siti Aisyah….”

“Nama saya ‘Siti Nurkhalishah’. Sama!” Nur gembira. Dia sudah tidak tertarik lagi dengan surat dan foto-foto itu. Dia kini berpindah ke televisi.

Jodha bangkit dan membereskan foto-foto yang berserakan di lantai.

Sebelum dimasukkan ke amplop, dia melihatnya sekali lagi. Foto-foto Namlok Sarachipat dengan suami barunya. Juga ada Siti Aisyah yang sudah sekolah setingkat dengan sekolah dasar di sini. Umur Siti Aisyah sekarang sekitar 8 tahunan. Mereka berfoto di depan Grand Palace, istana raja Thailand, Bhumipol Abdulyadey. Betapa bahagianya mereka. Ternyata mereka sangat tabah dan berhasil mengatasi ujian berat dari Allah, ketika harus kehilangan Hakim yang berpulang ke rahmatullah!

Lalu Jodha mengambil lagi surat dari Namlok. Bahkan Siti Aisyah pun sudah pandai menulis surat. Mereka mengucapkan terima kasih karena selalu rutin dikirimi uang oleh Jalal. Uang bagian dari hasil keuntungan perusahaan yang menjadi hak mereka. Namlok mengabarkan bahwa semua uang hak anaknya ditabungkan di bank. Insya Allah, jika Siti Aisyah besar nanti, uang itu akan banyak manfaat bagi dirinya.

Sedangkan Siti Aisyah menulis, betapa ingin sekali berlibur ke Cilegon. Berziarah ke makam ayahnya dan berkenalan dengan saudaranya, Siti Nurkhalishah. Tulisan tangan dan bahasa Inggrisnya sudah cukup lancar.

Tanpa disadari, Jodha meneteskan air mata. Tiba-tiba saja dia ingat pada Hakim, suami dan ayah mereka, yang juga pernah singgah sesaat di kehidupannya.

“Ya Allah, lindungilah Hakim di alam kubur. Beri dia tempat yang layak di sisi-Mu. Ampunilah segala dosa-dosanya,” begitu Jodha berdoa untuk keselamatan mantan suaminya.

Lalu Jodha melipat lagi surat itu dan bersama foto-fotonya dimasukkan ke dalam amplop. Diletakkannya surat berharga itu di meja kerja Hakim. Dia berjalan ke sofa dan duduk lagi dengan hati-hati. Diambilnya majalah kesehatan dari bawah meja. Sambil membaca, dia mengawasi Nur yang sedang asyik nonton film takhayul di televisi.

“Ibu ..., takut!” tiba-tiba Nur bangkit dari duduknya dan berlari, bersembunyi di balik kursi. Di layar televisi, si tuyul sedang dikejar-kejar musuhnya yang bertubuh lebih besar.

“Kenapa, Teteh? Kok, takut? Itu, kan bohong-bohongan,” Jodha tersenyum.

“Bohong-bohongan, Bu?”

“Iya.”

“Bapak mana, Bu?” Nur kecil tidak tertarik lagi pada televisi. Dia mendekati ibunya dan duduk di sebelahnya.

~Episode 22~

“Bapak masih kerja.”

“Oh, Bapak masih kerja,” katanya mulai tertarik pada majalah yang dibaca ibunya.

“Iya.”

“Bapak kerja di mana?”

“Di kantor.”

“Oh, di kantor,” kali ini dia mulai menarik-narik majalah. “Ibu sedang apa?” Siti Nurkhalishah naik ke kursi.

“Baca majalah.”

“Majalah apa?”

“Ini,” Jodha menunjukkan isi majalah. “Tuh ..., ada Dede yang sedang minum susu, kan?”

“Oh, iya ...,” Nur mengangguk-angguk. “Teteh juga minum susu!”

“Minum susunya yang banyak. Biar sehat.”

“Teteh juga makannya banyak!”

“Teteh, kan sudah besar. Jadi, makannya harus banyak. Biar cepet tinggi kayak Ibu sama Bapak.”

“Kok, Bapak belum pulang, Bu?” Nur kecil kini berdiri di kursi.

“Bapak masih banyak pekerjaan. Mungkin belum selesai.”

“Kapan pulangnya?”

“Insya Allah, setelah Ibu shalat isya. ..”

“Teteh juga mau shalat isya!”

“Ayo, kita shalat di mushola,” ajak Jodha.

“Nanti aja, Bu!” Nur kecil mulai melompat-lompat di kursi.

“Teteh ...,” panggil Jodha kepada Siti Nurkhalishah. “Ayo ..., kursi buat apa?” katanya mengingatkan.

“Buat duduk!” jawab Nur yang kini makin pandai bicara.

“Kalau buat duduk, kenapa Teteh main lompat-lompatan?” Jodha tersenyum.

Anak pertamanya sekarang minta dipanggil “teteh”, yang berarti “kakak” karena sebentar lagi dia akan punya adik.

Nur turun dari kursi.

“Hati-hati turunnya, Nur….”

“Teteh!” Nur meralat.

“Iya, hati-hati turunnya, Teh ...,” Jodha tersenyum.

Nur sudah turun. Dia mendekati ibunya lagi. Jodha menyambut buah hatinya dengan senyuman. Biasanya Nur minta digendong. Tetapi kali ini dia sudah mengerti bahwa ibunya akan kewalahan dengan perutnya. Dia hanya menempelkan telinganya di perut ibunya yang besar.

“Dede tidur?” tanyanya ingin tahu.

Jodha tersenyum dan mengelus-ngelus perutnya.

“Iya, dedenya sedang tidur.”

“Dede, nggak bangun?”

“Bangunnya besok. Sekarang sudah malam. Teteh juga harus tidur…”

“Teteh mau main dulu!” katanya menuju ruang bermain, yang letaknya di sudut ruang keluarga.

Jodha melihat ke jam dinding. Sudah jam delapan malam! “Mainnya jangan lama-lama ya, Teh ...,” Jodha memberi syarat.

“Iya, Bu ...,” jawab Nur sambil menarik sebuah kardus. Isinya ditumpahkan ke lantai. Boneka, rumah-rumahan, mainan dokter-dokteran, tumpah ruah ke lantai. Dia dengan penuh semangat dan gembira memilih-milih mainan itu dan menyusunnya di lantai. Dia sedang membuat sebuah rumah boneka. Boneka itu ditidurkan di ranjang. Kemudian dia mencari-cari peralatan dokternya.

Kriiing ...! telepon berdering!

Jodha agak susah untuk bangkit.

“Teteh saja, Bu!” Nur berlari.

“Kriiiing…!!

“Pasti dari Bapak!”

“Assalamu’alaikum!” Nur memberi salam di telepon. “Ini siapa?” tanyanya. “Ini ‘Teteh Nur’,” katanya gembira. “Oh, Nenek!” dia melihat ke ibunya. “Nenek, Bu!” Nur mengacungkan gagang telepon ke ibunya.

Jodha kini sudah bangkit dengan menopang tubuhnya di pegangan kursi. Dia berjalan menuju meja telepon. “Dari Nenek, Teh?” tanyanya.

“Nih!” Nur menyerahkan gagang telepon dan berlari lagi menuju mainannya di sudut ruangan.

“Assalamu’alaikum, Bu ...,” Jodha memberi salam. Ada keheranan di wajahnya. Biasanya Natalia suka berlama-lama jika sudah berbicara dengan Nur di telepon. “Ya, Bu? Apa? Bapak?” kabar dari Natalia membuat jiwanya berguncang. “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun ...,” wajah Jodha langsung pucat.

“Ibu!” Nur berteriak.

Tubuh Jodha limbung.

~NEXT~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar