Kamis, 25 Juni 2015

TempatKu di Sisi Mu Episode 25 & 26 – By Gola Gong

~Episode 25~

Erangan itu membuatku takut,
tetapi para malaikat dan nabi memberi kekuatan:
tugasmu usai!
Dia menyentuh dengan penuh cinta
Aku patuh tak bertanya
Hawa dingin menyergap
Aku berteriak kedinginan

Mata Pak Soleh berkaca-kaca ketika tertatih-tatih ke ruang kerja Jodha di samping ruang keluarga. Dia merasakan juga hal yang sama; Jodha sudah seperti anaknya sendiri. Itu dia rasakan sejak almarhumah Bik Eti menemukan bayi berumur satu bulan di gerbong kereta di stasiun Cilegon.

“Pak Soleh, mau ke mana? Nur ikut!” Nur bangkit dan mengejar Pak Soleh.

Lamunan Pak Soleh buyar. Dia sudah sampai di pintu penghubung menuju ruang kerja Jodha. Pak Soleh melihat Nur sedang asyik main rumah-rumahan.

“Bapak mau ngambil tas kerja ibumu,” katanya bergegas.

“Nur ikut!”

“Nur…., main saja sana….,” Pak Soleh menuju meja kerja Jodha. Di sana ada tas kerja Jodha. Diambilnya tas itu.

“Nur yang bawa, Pak!”

“Berat, Nur….,”

“Nggak pa-pa!” Nur merebut dan menarik tas kerja itu.

“Jangan, Nur…”

“Nur yang bawa!” Nur tetap memaksa.

Pak Soleh tidak bisa mencegah lagi. “Iya, Nur boleh bawa tasnya ...,” katanya tersenyum.

“Horeee! Nur yang bawa!” Nur dengan semangat menyeret tas yang sangat berat untuk ukuran gadis kecil seperti dia. Tetapi, Nur pantang menyerah. Dia terus menyeret tas kerja ibunya ke kamar.

“Nur ..., biar Pak Soleh yang bawa ...,” kata Bik Marhamah, yang muncul dari dapur dengan baskom berisi air panas.

“Nur juga kuat!” jawab Nur.

Bik Marhamah dan Pak Soleh hanya pasrah saja menatap Nur, yang kalau sudah ada maunya tidak bisa dibantah. Akhirnya mereka membiarkan Nur membawakan tas kerja ibunya. Bik Marhamah menyuruh Pak Soleh membawakan beberapa kain bersih yang digepit di ketiaknya. Mereka kemudian mengikuti Nur di belakang, sambil berharap-harap cemas, jika melihat Nur kepayahan menyeret tas kerja ibunya.

Akhirnya Nur sampai juga di sisi tempat tidur ibunya. “Ini, Bu! Tas dokternya!” dia meletakkan tas itu di dekat ibunya dengan bangga. “Berat, Bu! Tapi Nur kuat. Kan sudah besar!”

Jodha mengusap kepala Nur dengan senyuman. “Makasih ya, Nur ...Sekarang, Nur main lagi ya... Jangan ganggu Ibu, ya….”

“Emang, Ibu kenapa sih?” Nur meneliti tubuh ibunya.

“Dedenya kan mau keluar ...”

“Oh ...,” Nur mengangguk dan pergi menemui “rumah mainan”-nya di sudut ruangan. Sekali lagi dia menoleh, ingin memastikan bahwa ibunya baik-baik saja. Setelah merasa yakin, dia berjingkrak-jingkrak keluar kamar.

Pak Soleh sudah berdiri di dekat Jodha. Dia bersiap-siap, jika ada sesuatu terjadi pada diri Jodha. Bik Marhamah meletakkan air panas di baskom. Juga beberapa kain bersih.

“Siapkan saja semuanya ...,” perintah Jodha. “Bismillah ...,” dia memulai sesuatu pekerjaan dengan meminta perlindungan pada Allah. Tiba-tiba saja, dia merasakan kontraksi yang hebat. Dia merasakan nyeri yang luar biasa.

Ada dorongan yang kuat sekali dari dalam perutnya. “Aduuuh..., kayaknya bayinya mau keluar ...,” Jodha mengeden.

“Aduuh ..., gimana, Bu?” Bik Marhamah makin gugup.

“Bismillah, Bik ...,” Pak Soleh menyemangatinya.

Tetapi karena pada kelahiran pertama bayinya, Jodha mengalami chepalo previx disproportion atau panggul sempit, setelah mengeden dengan kuat pun, bayinya belum mau keluar.

“Biiik ..., Pak ..., tolong tarik kepalanya, ya Pelan-pelan saja ...,” Jodha mengeden lagi.

Bik Marhamah dan Pak Soleh saling pandang. Mereka tak bisa berbuat apa.apa. Di penglihatan mereka, belum tampak si bayi keluar. Mereka tampak ketakutan dan hanya bisa berdoa saja.

Jodha tersadar akan lamunannya. Dia ingat bahwa panggulnva sempit. Dia menangis. Dia meminta perlindungan pada Allah. Dia pasrah. Tetapi, jika boleh memilih, dia memilih si bayi yang lahir selamat dengan taruhan nyawanya.

“Pak Soleh, ayo telepon Den Jalal lagi,” Bik Marhamah makin cemas.

Pak Soleh mengangguk dan berbalik hendak ke luar kamar. Tetapi saat itu muncul Jalal tergopoh-gopoh. Di belakangnva Nur mengikuti sambil berjingkrak-jingkrak .

“Bapak datang! Bapak datang!” teriak Nur gembira sekali.

“Jodha!” Jalal menyerbu ke tempat tidur.

“Pak…..” Jodha menggenggam tangan suarninva.

“Masih kuat?” Jalal meneliti sekujur tubuh istrinya.

Jodha menggeleng lemas. Pasrah. Wajahnya pucat.

Jalal mencoba untuk tenang walaupun gugup. “Sabar, Jodha….. Tenang ...,” itu saja yang keluar dari mulutnya.

“Pak ..., Ibu sakit, ya?” Nur memepet ke tubuh bapaknya.

“Iya. Ibu sakit.” Jalal tersenyum. “Bik, tolong Nur jagain dulu, ya?!” perintahnya.

Tetapi Nur menolak. Dia menangis. “Nur mau lihat Dede!” tangisnva.

“Iya….., tetapi nanti. Dedenya kan belum keluar,” Bik Marhamah memangkunya. Dia membawa Nur ke luar kamar.

“Pak ..., Bu Bidannya belum datang, ya?” Jodha was-was.

“Bapak tadi udah nelepon. Katanya Pak Soleh juga nelepon, ya?”

“Iya. Ibu yang nyuruh,” Jodha mengiyakan.

“Tahan sebentar, ya?” pinta Jalal.

Tiba-tiba terdengar klakson mobil. Semua melihat ke jendela kamar dengan wajah lega dan penuh pengharapan.

“Alhamdulillah, Bu Bidan datang,” Pak Soleh mengucap syukur.

“Insya Allah, semuanya akan lancar,” Jalal mengecup kening istrinya.

“Kak Jalal ...,” Jodha menangis.

“Percayakan semuanya sama Allah.”

“Iya, Kak ...,” Jodha menangis.

Pada saat itu Bu Bidan muncul tergopoh-gopoh. Di belakangnya, asistennya menjinjing tas. Dengan sigap, Bu Bidan memberikan perintah ini-itu pada Jalal dan Pak Soleh.

“Semuanya ada di mobil! Cepet, bawa ke sini!” kata Bu Bidan.

Jalal dan Pak Soleh tidak banyak bicara. Mereka mengikuti semua instruksi Bu Bidan. Jodha tergolek pasrah. Bu Bidan tersenyum menguatkan hatinya.

“Kasusnya sama seperti yang pertama,” kata Bu Bidan.

“Divacum lagi, Bu?” tanya Jodha pasrah.

“Iya.”

“Lakukan saja, Bu.”

“Jangan takut. Melahirkan biasa, divacum atau dicesar sama saja. Yang penting anak dan ibunya selamat,” Bu Bidan memberikan semangat.

Jodha menangis terharu mendengar kalimat Bu Bidan yang sejuk.

Waktu berlalu. Dengan alat vacum dan atas kehendak Allah, terdengarlah suara tangis bayi lelaki memecah malam.

“Alhamdulillah,” Bu Bidan mempertunjukkan si bayi.

“Bayinya laki-Iaki! Sepasang!” bisik Jalal di telinga Jodha.

Jodha tergolek lemas dan bahagia. Jalal mengecup keningnya.

“Jangan ada yang ketiga ya, Pak!” Bu Bidan memperingatkan. “Kasihan ibunya!”

Jalal mengangguk, “Insya Allah, Bu Bidan. Dua saja sudah cukup.”

Bu Bidan dan Jodha saling pandang. Mereka saling senyum.

“Terima kasih, Bu,” suara Jodha tulus.

“Berterimakasihlah pada Allah, karena dialah yang menghidupkan dan mematikan makhluknya,” Bu Bidan tersenyum.

Bik Marhamah dan Pak Soleh muncul di pintu kamar. Mereka mengucap syukur karena Jodha dan bayinya diberi keselamatan oleh Allah Swt.

“Horeee! Nur punya Dede!” tiba-tiba muncul Nur berteriak gembira.

~Episode 26~

Angin berkabar padaku
Cerita rasul dan riwayat mimpi
Ayat-ayat mengalun rindu
Bertemulah aku di muara:
saat Ia mengisi raga kosongku!

Matahari sudah menggelincir turun dari titik kulminasi. Awan hitam menyergap bola merah raksasa itu. Ini seperti pertanda bahwa alam pun ikut berdukacita dengan kepergian orang yang kita cintai. Angin berembus di pemakaman umum itu. Dedaunan merunduk. Daun yang kering lepas dari tangkainya, dan yang masih hijau menunggu gilirannya nanti untuk kembali ke pangkuan alam.

Tanah merah mulai dikeduk dengan sekop. Lalu dilemparkan ke dalam lubang berukuran dua meter persegi. Segundukan demi segundukan, tubuh terbujur kaku yang dibalut kain kafan itu mulai tertimbun tanah merah. Tak ada harta atau kekuasaan yang bisa mencegahnya saat itu.

Natalia menaburkan bunga di pusara suaminya. Semoga kamu medapatkan tempat di sisi Allah! Amien ya rabbal alamien …..

Para pelayat yang berjubel mengantar Hari Natadiningrat ke liang kubur satu per satu sudah pulang. Tinggal Jalal, Pak Hidayat, dan istrinya yang masih setia menemani Natalia.

“Saya permisi pulang, Bu!” Jalal meminta izin. “Ada urusan yang harus diselesaikan.”

Natalia mengangguk, “Terima kasih kamu mau datang,” katanya menahan keharuan.

Jalal mencium tangan Natalia. “Assalamu’alaikum,” dia pamitan. “Mari Pak, Bu ...,” dia juga menyalami Pak Hidayat dan istrinya.

“Wa’alaikum salam,” mereka melepas kepergian Jalal.

Angin berkesiur lagi. Daun-daun kering beterbangan.

“Natalia ...,” Bu Hidayat meraih pundaknya. “Ayo, kita pulang,” ajaknya. Natalia bangkit. Dia mencoba untuk bertahan, tetapi air mataya jebol juga.

Bu Hidayat memeluknya. Membiarkan kesedihan Natalia tumpah ruah. Di dadanya.

“Kenapa Allah selalu mengambil orang-orang yang saya cintai, Bu?” ada nada protes di suara Natalia.

“Itu artinya, kamu sedang diuji.”

“Kenapa harus saya?”

“Karena Allah sayang sama kamu….”

“Ini tidak adil, Bu….”

“Istighfar, Natalia ...,” Bu Hidayat mengingatkan. “Cobalah lihat ke sekeliling kamu. Betapa banyak orang yang tidak seberuntung kamu. Mereka hidup dililit kemiskinan.”

“Tapi, mereka tetap bahagia dengan sebuah keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak. Sementara saya, Bu?” Natalia seolah menggugat keberadaannya.

“Itulah bedanya. Kamu diberi harta melimpah, tapi tidak diberi sebuah keluarga yang utuh. Kenapa? Jika kamu diberi kebahagiaan sebuah keluarga, kamu pasti akan lupa pada keluarga-keluarga yang kesusahan dalam segi ekonomi. Dengan limpahan materi, kamu bisa memiliki keluarga-keluarga baru, dengan cara membantu mereka.”

Natalia menyeka air matanya. Dia merasa omongan Bu Hidayat benar adanya. Dia mencoba tersenyum karena sudah menemukan jawaban yang dicarinya. “Astaghfirullah,” dia tersenyum. “Kenapa saya tidak mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan?”

Pak Hidayat dan istrinya kini tersenyum lega. Dia berhasil membawa Natalia pergi dari pemakaman. Para iblis yang sudah bersiap-siap dengan rantai dan obor neraka, lari terbirit-birit. Lagi-lagi mereka gagal mengajak umat Muhammad ke golongan mereka.

Tetapi Natalia terhenti di pintu pemakaman. Saat itu sebuah taksi berhenti.

Diana keluar dan berlari ke arahnya. Diana yang memilih berdomisili di Singapura sambil kuliah, tiba-tiba ada di depannya. Diana memeluknya dengan mata berkaca-kaca.

“Diana!” Natalia mengusap-usap rambutnya.

“Hallo, Om, Tante,” Diana menyapa Pak Hidayat dan istrinya.

Mereka tersenyum pada Diana. “Kami duluan, ya,” mereka pamitan. “Assalamu’alaikum ...”

“Wa’alaikum salam ...,” Natalia tersenyum melepas mereka.

Diana berjongkok dan menaburkan bunga di pusara Pak Hari.

“Maafkan Diana, Mama. ..nggak ikut pemakaman Papa Hari….”

“Nggak apa-apa, Diana ...,” Natalia memegangi bahunya. “Kamu baru datang, ya?”

“Iya, Ma. Dari bandara langsung by taksi ke sini.”

“Kamu nggak ketemu Jalal tadi?” tanya Natalia.

“Ketemu. Tapi, Jalal nggak mau berhenti. Jalan terus dia!” Diana agak sebal.

“Kuliah kamu gimana?” Natalia mengalihkan topik.

“Lancar, Ma!”

“Kamu capek, ya,” Natalia memperhatikan luka parut di wajah Diana, akibat kecelakaan mobil di Cilegon, sudah tidak begitu kentara. “Luka parut kamu mendingan sekarang.”

“Tapi, tetap saja Diana nggak bisa berkarir lagi,” nada suaranya kecewa. “Mereka pada nggak mau lagi make Diana. Terutama produk kosmetik. Ini semua gara-gara Jalal!”

“Hus, nggak boleh nyalahin orang lain! Ini namanya musibah. Allah sedang menguji kamu!”

“Menguji, kok dengan cara seperti ini!”

“Susah kalau bicara sama kamu!” Natalia menggandeng Diana, mengajak pergi. “Tapi, kamu masih bisa fashion show, kan?”

“Sesekali saja. Tapi, Diana mau fokuskan kuliah saja. Jadi designer juga nggak jelek kan, Ma!”

“Bagus, bagus itu ...,” Natalia mengangguk senang. “Ayo, kita pulang,” ajaknya meninggalkan pemakaman umum.

“Mama. ..tadi Jalal datang sendirian, ya? Kok, nggak sama Jodha?” Diana mengitari pandang.

“Jodha nggak bisa datang. Dia baru saja melahirkan.”

“Melahirkan lagi?”

“Iya. Anaknya yang kedua.”

“Astaga!” Diana tersenyum senang.

“Besok Mama mau ke Cilegon.”

“Secepat itu? Bukankah Mama masih berkabung?”

“Ada sesuatu yang harus Mama sampaikan pada Jodha.”

“Sesuatu yang penting? Apa itu?” Diana menyelidik.

Natalia tersenyum dan mengajak Diana pulang. Diana merasa ada sesuatu yang disembunyikan mamanya. Hatinya berontak. Mama sekarang pilih kasih. Itu sudah dirasakannya sejak Jodha memasuki kehidupannya. Semuanya kini selalu serba Jodha. Setiap saat, selalu saja mamanya membandingkannya dengan Jodha. Misalnya, “Diana, shalat dulu!” Atau, “Lihat tuh, Jodha! Cantik sekali memakai jilbab!” Lain waktu, “Kamu harus sabar seperti Jodha.” Menyebalkan. Okelah, dirinya dan Jodha terlahir dari rahim yang sama, mamanya. Tetapi, masing-masing pasti punya cara pandang yang berbeda dengan kehidupan. Apalagi memaksakan pakaian orang kepada dirinya! Nanti dulu!

“Kenapa, Diana?” Natalia menanyakannya, ketika sudah berada di dalam mobil.

Diana yang duduk di balik kemudi diam saja. Dia merasa gerah lagi jika mengingat perbandingan-perbandingan dirinya dengan Jodha. Itulah kenapa dia memilih tinggal di Singapura. Tidak lain supaya dia bisa melupakan hal itu.

Hari sudah semakin sore dan mendung makin pekat. Angin berembus keras, memecahkan gumpalan air di dalam awan. Gerimis pun turun, seolah menangisi kepergian Pak Hari.

~NEXT~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar